Bab 3
Harga Sepiring Nasi Bukan Tebakan
Tiga tahun pertama, saya menentukan harga dengan cara yang paling umum dipakai warung: melihat harga tetangga, lalu mengurangi seribu. Nasi ayam di warung sebelah dua belas ribu, maka di tempat saya sebelas ribu. Rasanya masuk akal. Pembeli datang, wajan tidak pernah dingin, dan laci uang selalu terisi menjelang sore.
Yang tidak saya lihat, isi laci itu bukan milik saya. Sebagian besar sudah punya nama: tukang ayam yang datang tiap subuh, agen gas, beras, minyak, dan upah Mbak Yati yang membantu mencuci piring. Suatu malam di bulan puasa saya menghitung semuanya di balik kertas nasi, karena buku tulis sudah habis. Hasilnya membuat saya diam cukup lama. Dari sepiring nasi ayam seharga sebelas ribu, yang benar-benar tersisa untuk saya hanya sembilan ratus rupiah. Itu pun kalau tidak ada ayam yang gosong.
Malam itu saya belajar hal yang kelak menjadi kebiasaan paling berharga di dapur kami: harga tidak boleh lahir dari rasa sungkan. Harga harus lahir dari timbangan. Besoknya saya menimbang semua yang masuk ke satu piring. Nasi seratus delapan puluh gram. Ayam sembilan puluh gram setelah digoreng. Sambal dua sendok. Lalapan, bungkus, karet, bahkan tisu. Saya tulis satu per satu di kartu resep, lengkap dengan harga belinya minggu itu.
Angkanya tidak cantik. Modal bahan saja sudah tujuh ribu empat ratus. Belum gas, belum sewa, belum tenaga. Menaikkan harga seribu lima ratus rupiah terasa seperti mengkhianati pelanggan. Ternyata yang protes hanya dua orang, dan keduanya tetap datang hari Senin berikutnya.
Sejak itu setiap menu di warung kami punya kartu. Kartu itu tidak membuat masakan lebih enak. Ia hanya membuat saya berhenti menebak, dan untuk warung sekecil kami, berhenti menebak sudah separuh jalan menuju rapi.