Profil alumni · · ditulis Nadia Safitri (’14)
Setelah enam tahun bekerja di kota lain, Fitri memilih kembali ke Wanalaya dan mengajar di sebuah SMP negeri. Ia bercerita tentang alasan pulang dan kelas yang tidak takut salah.
Fitri Rahmawati lulus tahun 2008 dari kelas IPA 2. Ia mengaku bukan murid yang paling cepat menangkap pelajaran. "Saya sering baru paham setelah mengerjakan soal yang sama tiga kali," katanya sambil tertawa di ruang guru, Sabtu siang awal September.
Selepas kuliah pendidikan matematika, ia mengajar di sebuah sekolah swasta di Kota Lintang Raya selama enam tahun. Tahun 2019 ia lolos seleksi guru dan meminta penempatan di kota asalnya.
Kelas yang boleh salah
Di kelasnya ada satu aturan yang ditulis di pojok papan: jawaban salah dibahas dulu, baru jawaban benar. Menurut Fitri, murid SMP lebih berani mencoba kalau tahu kesalahannya tidak ditertawakan.
Ia juga membuat lembar latihan sendiri dengan contoh dari sekitar sekolah: menghitung luas sawah di belakang gedung, membandingkan tarif angkutan kota, sampai membaca grafik curah hujan dari papan informasi kelurahan.
Jadi mentor di program alumni
Sejak tahun lalu Fitri ikut menjadi mentor di program mentoring IKA Karsa Taruna untuk alumni muda yang ingin menjadi guru. Ada empat slot per semester, dan semuanya selalu terisi.
Kepada adik kelas yang ragu pulang ke kota kecil, pesannya sederhana: lihat dulu apa yang kurang di kotamu, lalu tanyakan apakah kamu bisa mengisinya.
"Saya tidak pulang karena kalah di kota besar. Saya pulang karena di sini pekerjaannya lebih terasa."