← Galeri
Pesan
Demo oleh abcweb.id
Langsung ke isi

Edisi No. 148 · Tahun XII

Suara KampusArunika

Buletin pers mahasiswa Universitas Arunika Nusantara
Menu
Liputan Khusus

Belajar Setelah Gelap: Mencari Ruang Belajar Malam di Kampus

Redaksi berjalan mengelilingi kampus selama empat malam untuk menghitung di mana mahasiswa bisa belajar setelah pukul 19.00. Hasilnya: 1.130 kursi pada sore hari menyusut menjadi 164 kursi pada pukul sembilan malam.

Oleh Yoga Pradipta

Penyunting: Nadia Prameswari

3 menit baca · 571 kata

Ruang luas berisi meja dan kursi kosong dengan lampu langit-langit menyala dan jendela besar saat hari mulai gelap
Ilustrasi ruang belajar bersama menjelang malam.

Pukul 21.10 pada Selasa malam, selasar lantai dasar Gedung Kuliah Bersama masih terang. Di bawah empat lampu yang tersisa, sebelas mahasiswa duduk bersila di lantai, laptop di pangkuan, kabel pengisi daya menjalar ke satu-satunya stopkontak di dekat mesin air minum. Mereka tidak sedang menunggu kelas. Mereka sedang mencari tempat belajar.

Selama empat malam pada pekan lalu, redaksi Suara Kampus berjalan mengelilingi kampus pada pukul 17.00, 19.00, dan 21.00. Kami menghitung kursi yang benar-benar bisa dipakai belajar: ada meja, ada lampu, dan tidak dikunci. Hitungannya sederhana, dan hasilnya cukup menjelaskan mengapa selasar itu ramai.

Dari 1.130 kursi menjadi 164

Pada pukul 17.00, kami mencatat 1.130 kursi belajar di sembilan lokasi, dari ruang baca Graha Pustaka sampai pojok baca di tiap fakultas. Pukul 19.00, ketika perpustakaan dan sebagian besar gedung fakultas tutup, angka itu turun menjadi 318. Pukul 21.00 tersisa 164 kursi di tiga tempat: selasar Gedung Kuliah Bersama, ruang bersama Asrama Timur, dan teras Sanggar Fajar.

Dari tiga tempat itu, hanya ruang bersama asrama yang punya meja memadai, dan ruang itu diperuntukkan bagi penghuni. Teras Sanggar Fajar terbuka bagi siapa saja, tetapi berbagi suara dengan latihan paduan suara dan tabuhan perkusi sampai pukul 21.30.

“Saya tidak mencari tempat yang nyaman sekali. Cukup meja, lampu, dan colokan. Tiga hal itu ternyata jarang ada bersamaan setelah magrib.”

Anindya Kusuma, mahasiswa Statistika semester 5

Mengapa tidak belajar di kos

Pertanyaan itu kami ajukan kepada 46 mahasiswa yang kami temui di ketiga lokasi. Jawaban terbanyak, dari 19 orang, adalah kerja kelompok: kamar kos terlalu sempit untuk empat orang. Sebelas orang menyebut koneksi internet kampus yang lebih stabil. Sembilan orang mengaku lebih mudah berkonsentrasi bila melihat orang lain juga belajar. Sisanya menjawab beragam, dari kamar yang panas sampai menunggu jadwal bus terakhir.

Yusuf Hidayat, mahasiswa Teknik Sipil semester 7, sudah tiga semester belajar di selasar. Ia hafal lampu mana yang dimatikan pukul 21.30 dan bangku mana yang paling dekat dengan stopkontak. Menurutnya persoalannya bukan jumlah gedung, melainkan jam buka.

Jawaban pengelola

Kepala Bagian Sarana dan Prasarana, Ir. Bambang Sutrisno, mengakui ruang belajar malam belum pernah dihitung sebagai kebutuhan tersendiri. Gedung fakultas dikunci pukul 19.00 karena jumlah petugas jaga malam terbatas, yaitu 14 orang untuk seluruh kampus.

“Membuka gedung itu mudah. Yang sulit adalah memastikan ada orang yang menjaga, lampu tangga menyala, dan toilet bisa dipakai. Kalau itu belum siap, kami tidak berani membuka.”

Ir. Bambang Sutrisno, Kepala Bagian Sarana dan Prasarana

Ia menyebut dua langkah yang sedang disiapkan. Pertama, perpanjangan jam Graha Pustaka sampai pukul 22.00 selama pekan ujian, yang mulai berlaku pekan depan. Kedua, uji coba satu ruang belajar malam di lantai dasar Gedung Kuliah Bersama dengan 80 kursi, 40 stopkontak, dan jam buka sampai pukul 23.00. Uji coba direncanakan berjalan satu semester.

Yang diminta mahasiswa

Dewan Perwakilan Mahasiswa mengumpulkan usulan lewat formulir yang diisi 530 mahasiswa. Tiga permintaan teratas ternyata sederhana: stopkontak yang cukup, lampu yang tidak dimatikan sebelum jam tutup, dan kepastian jadwal bus kampus terakhir.

Ketua Komisi Fasilitas Dewan Perwakilan Mahasiswa, Kirana Widyastuti, berharap uji coba tidak berhenti sebagai proyek satu semester. Ia mengusulkan agar tiap fakultas menetapkan satu ruang yang dibuka bergiliran, sehingga beban petugas jaga terbagi.

Redaksi akan mengulang penghitungan kursi pada pertengahan semester depan, setelah ruang uji coba berjalan. Sampai saat itu, selasar Gedung Kuliah Bersama tampaknya masih akan ramai. Malam ketika kami pulang, pukul 21.40, sebelas mahasiswa tadi sudah menjadi lima belas.

Topik ruang belajarfasilitasujianlaporan utama

Tentang penulis

Yoga Pradipta

Reporter Liputan Khusus · Teknik Sipil, semester 5

Terbiasa menghitung sebelum menulis: jumlah kursi, jam buka, jarak antargedung. Percaya bahwa liputan fasilitas kampus harus dimulai dengan berjalan kaki mengelilinginya.

Lihat susunan redaksi

Tulisan Terkait