Rani OktavianiRelawan dokumentasi · · 4 menit baca
Muara Kecil selalu jadi ruas tersulit: sampah dari anak sungai tersangkut di akar dan lumpur. Begini jalannya aksi September.
Pukul 06.10 baru sebelas orang yang datang. Kabut masih turun di atas air dan lumpur di tepi muara belum mengeras. Bagas, koordinator lapangan, menancapkan bambu penanda batas: tidak ada yang boleh turun melewati garis itu tanpa sepatu bot.
Menjelang 06.30 daftar hadir sudah terisi 52 nama. Delapan regu dibentuk, dua di antaranya regu bot yang bertugas di tepi air.
Yang paling banyak: kemasan saset
Di Muara Kecil sampah tidak mengapung, melainkan terkubur. Kantong plastik dan kemasan saset terselip di antara akar, tertimbun lumpur dari banjir kecil bulan lalu. Satu regu butuh hampir satu jam hanya untuk membersihkan sepuluh meter tepian.
Saat ditimbang, hasilnya 318 kg: plastik 164 kg, organik 91 kg, dan residu 63 kg. Lebih dari separuhnya plastik, dan sebagian besar plastik itu kemasan sekali pakai berukuran kecil.
Catatan untuk aksi berikutnya
Tiga hal kami catat. Pertama, capit bambu lebih berguna daripada tangan di lumpur. Kedua, regu bot perlu ditambah menjadi tiga. Ketiga, karung terlalu penuh sulit diangkat ke atas tebing: cukup isi tiga perempat.
Plastik botol dan gelas yang masih bersih kami antar ke bank sampah mitra. Hasil penjualannya masuk ke kas dan tercatat di laporan dana bulan September.
“Saya kira bersih sungai itu memungut botol yang mengapung. Ternyata lebih mirip menggali.”
Cerita, nama, dan angka di halaman ini adalah contoh fiktif untuk keperluan demo.