Bu Ratna, Dua Puluh Tahun Menjaga Panggung Teater Kampus
Ratna Kusumawardani membina Teater Lentera sejak dua dekade lalu. Ia tidak pernah menyutradarai satu pementasan pun, dan menurutnya justru itulah tugasnya.
Oleh Dimas Anggoro
Penyunting: Laras Ayuningtyas
1 menit baca · 265 kata
Setiap latihan Teater Lentera di Balairung Arunika, ada satu kursi di baris keenam yang hampir selalu terisi. Di situ Ratna Kusumawardani, dosen Fakultas Ilmu Budaya dan Bahasa, duduk dengan buku catatan kecil. Ia sudah menempati kursi itu selama dua puluh tahun.
Bu Ratna, begitu para anggota memanggilnya, menjadi pembina sejak teater mahasiswa itu baru beranggotakan sembilan orang dan berlatih di selasar. Kini anggotanya 74 orang dan mementaskan dua lakon setahun. Selama itu ia tidak pernah menyutradarai, menulis naskah, atau memilih pemain.
“Kalau saya yang menyutradarai, ini menjadi teater saya. Tugas saya memastikan mereka punya ruang latihan, lampu yang menyala, dan seseorang yang jujur mengatakan adegan mana yang membosankan.”
Catatan di baris keenam
Catatan kecilnya terkenal di kalangan anggota. Setelah latihan, ia membacakan tiga hal saja: satu yang berhasil, satu yang belum, dan satu pertanyaan. Sutradara mahasiswa bebas mengabaikannya.
Bima Saputra, sutradara pementasan semester ini, mengaku awalnya gentar. Ternyata catatan Bu Ratna jarang soal akting. Lebih sering soal hal yang luput: penonton di sisi kiri tidak bisa melihat meja, atau jeda antarbabak terlalu panjang.
Di luar panggung, ia mengurus hal yang tidak tampak. Ia yang menegosiasikan jadwal pemakaian balairung, mencarikan gudang untuk properti, dan memastikan latihan selesai sebelum pukul 21.30 agar anggota tidak kehabisan bus.
Tahun depan Bu Ratna memasuki masa persiapan pensiun. Ia sudah meminta fakultas menunjuk pembina pendamping sejak sekarang. Soal kursi di baris keenam, ia tertawa. Kursi itu, katanya, bukan miliknya, dan siapa pun boleh duduk di sana asalkan membawa buku catatan.
Topik teaterdosenunit kegiatan
Tentang penulis
Dimas Anggoro
Fotografer dan Reporter Sosok · Desain Komunikasi Visual, semester 5
Memotret untuk hampir semua rubrik dan merancang sampul edisi cetak. Menulis rubrik Sosok karena, katanya, memotret orang membuatnya ingin tahu ceritanya.