← Galeri
Pesan
Demo oleh abcweb.id
Jejak Pelan Catatan perjalanan lambat · Nadia Prameswari
Menu

Cerita perjalanan Teluk Kelana

Menumpang Perahu Pak Darsa di Teluk Kelana

Pukul empat pagi saya duduk di haluan perahu kecil milik seorang nelayan Kampung Ujung Karang. Kami pulang membawa setengah ember ikan dan banyak cerita tentang teluk.

Nadia Prameswari
· 3 menit baca · 560 kata

Perahu nelayan kecil berwarna-warni di laut tenang pada pagi hari
Foto ilustrasi; Teluk Kelana adalah tempat fiktif.

Saya tidak berencana ikut melaut. Rencana saya di Teluk Kelana sederhana: menginap dua malam di rumah warga, berjalan di tepi air, dan makan ikan sebanyak mungkin. Tetapi pada malam pertama, Bu Sarti, induk semang saya, bilang suaminya akan mengangkat jaring sebelum subuh dan perahunya masih muat satu orang.

Pak Darsa, suaminya, tidak banyak bicara. Ia hanya bertanya apakah saya mabuk laut. Saya jawab tidak tahu. Ia mengangguk, lalu menyerahkan pelampung oranye yang warnanya sudah pudar.

Berangkat dalam gelap

Kami turun ke air pukul empat kurang sedikit. Perahu Pak Darsa panjangnya sekitar enam meter, bercadik, dengan mesin tempel kecil yang suaranya seperti batuk. Teluk masih gelap, dan satu-satunya cahaya datang dari lampu perahu lain yang tersebar seperti kunang-kunang di kejauhan.

Karena teluk melengkung seperti sabit, ombak dari laut lepas hampir tidak terasa. Air bergerak naik turun dengan sabar. Saya duduk di haluan dan memegang tepi perahu lebih erat daripada yang diperlukan.

Udara dingin dengan cara yang tidak saya sangka dari sebuah kampung pesisir. Jaket anti angin yang hampir saya tinggalkan di ransel ternyata menjadi barang paling berguna pagi itu, bersama segelas teh manis yang dibekalkan Bu Sarti dalam botol bekas sirop.

Siluet kapal kayu di air tenang dengan langit merah muda
Ilustrasi: siluet kapal kayu di air tenang saat langit masih merah muda.

Mengangkat jaring

Jaring Pak Darsa dipasang sore sebelumnya, ditandai pelampung dari jeriken bekas. Ia menariknya sendirian dengan gerakan yang kelihatan ringan tetapi jelas tidak ringan; saya mencoba membantu selama dua menit dan telapak tangan saya langsung merah.

Tangkapan pagi itu, menurutnya, biasa saja: beberapa ekor ikan kembung, dua ekor baronang, dan seekor cumi yang menyemprotkan tinta ke lantai perahu. Semuanya masuk ke ember biru. Ia memilah yang kecil dan melemparnya kembali ke air tanpa komentar.

“Teluk ini kecil. Kalau semua diambil sekarang, anak saya nanti menjaring apa? Yang kecil biar besar dulu.”

Pak Darsa, nelayan Kampung Ujung Karang

Matahari naik ketika jaring terakhir selesai digulung. Warna air berubah dari hitam ke abu-abu, lalu ke hijau yang hampir tembus pandang di dekat karang. Pak Darsa mematikan mesin dan membiarkan perahu hanyut sebentar. Katanya itu kebiasaannya setiap pagi: lima menit diam sebelum pulang.

Pelelangan kecil di dermaga

Kami merapat sekitar pukul setengah tujuh. Di dermaga sudah ada belasan orang, kebanyakan ibu-ibu dengan baskom. Tidak ada juru lelang, tidak ada pengeras suara. Ikan ditaruh di lantai semen, harga disebut pelan, ditawar pelan, dan dalam dua puluh menit hampir semuanya habis.

Pak Darsa menyisihkan dua ekor baronang untuk rumah. Sisanya terjual kepada seorang pemilik warung dari kampung sebelah. Saya tidak bertanya berapa hasilnya; rasanya tidak sopan. Yang saya tahu, ia tampak cukup puas untuk membeli sebungkus kopi di kios dekat dermaga dan mentraktir saya segelas.

Perahu bercadik tertambat di depan deretan rumah panggung dan bukit hijau
Ilustrasi: perahu bercadik di depan kampung rumah panggung.

Sarapan pukul delapan

Baronang itu digoreng Bu Sarti dengan bumbu kunyit dan dimakan dengan nasi panas dan sambal terasi. Kami makan di beranda yang menghadap teluk, sementara jaring dijemur di pagar. Pak Darsa akhirnya bercerita lebih panjang: tentang ayahnya yang juga nelayan, tentang musim angin kencang ketika perahu hanya disandarkan, dan tentang keinginannya memperbaiki cadik sebelah kiri.

Saya ingin menegaskan satu hal untuk yang berniat meniru pengalaman ini: saya ikut karena diajak, cuaca sedang baik, dan saya memakai pelampung sepanjang waktu. Jangan meminta ikut melaut seolah itu paket wisata. Nelayan bekerja, dan satu penumpang tambahan berarti satu orang lagi yang harus mereka jaga. Kalau ditawari, terimalah dengan senang hati; kalau tidak, pelelangan pagi di dermaga sudah cukup menjadi tontonan.

Yang saya bawa

  • Jaket anti angin
  • Kantong kedap air untuk telepon
  • Sandal bertali yang tidak licin
  • Obat anti mabuk (akhirnya tidak terpakai)
  • Uang tunai pecahan kecil

Daftar lengkap yang bisa dicentang ada di halaman perlengkapan.

Perjalanan ini saya biayai sendiri, tanpa sponsor. Baca kebijakan kerja sama dan transparansi.

Tulisan terkait

Cerita perjalanan Pulau Tanarawa

Tiga Hari Tanpa Sinyal di Pantai Batu Lesung

Di sisi barat Pulau Tanarawa ada pantai tanpa warung, tanpa sinyal, dan hampir tanpa pengunjung. Saya tinggal tiga hari di sana dan pulang dengan buku catatan yang penuh.

· 3 menit baca

Cerita perjalanan Kota Lamaruna

Pasar Pagi Lamaruna Sebelum Pukul Tujuh

Pasar pagi Kota Lamaruna ramai sejak sebelum subuh dan bubar ketika kebanyakan orang baru berangkat kerja. Saya datang tiga pagi berturut-turut dan selalu pulang kekenyangan.

· 3 menit baca