Cerita perjalanan Kota Lamaruna
Pasar Pagi Lamaruna Sebelum Pukul Tujuh
Pasar pagi Kota Lamaruna ramai sejak sebelum subuh dan bubar ketika kebanyakan orang baru berangkat kerja. Saya datang tiga pagi berturut-turut dan selalu pulang kekenyangan.
Nadia Prameswari
· 3 menit baca · 550 kata
Alarm saya berbunyi pukul empat. Dari jendela losmen di Jalan Kapitan, kota masih gelap, tetapi dari arah pelabuhan lama sudah terdengar suara gerobak didorong dan sesekali tawa keras. Pasar pagi Lamaruna tidak menunggu matahari.
Pasar ini bukan bangunan. Ia hanyalah tiga ruas jalan di belakang deretan ruko tua yang setiap pagi ditutup untuk kendaraan dan diisi lapak. Menjelang pukul delapan, terpal digulung, jalan disapu, dan kalau datang siang hari Anda tidak akan menyangka di situ pernah ada pasar.
Lorong sayur dan lorong ikan
Saya masuk dari sisi timur, lewat lorong sayur. Lampu-lampu bohlam digantung rendah di atas tumpukan kangkung, kacang panjang, terung ungu, dan cabai yang ditata membentuk gunung kecil. Para pedagang, hampir semuanya perempuan, duduk di bangku pendek sambil mengikat sayur dengan tali bambu.
Lorong ikan ada di ujung yang dekat pelabuhan. Lantainya basah dan baunya jujur. Ikan datang dari perahu yang merapat sejak pukul tiga, masih di dalam keranjang berlapis daun pisang. Tawar-menawar di sini cepat dan bernada tinggi, tetapi selalu diakhiri dengan senyum.
Bubur Mak Inah
Di pertemuan dua lorong itu ada lapak bubur yang antreannya paling panjang. Pemiliknya dipanggil Mak Inah, berjualan di titik yang sama, menurut pengakuannya, sejak anak sulungnya belum sekolah. Sekarang anak itu sudah punya anak.
Buburnya sederhana: bubur beras kental, kuah kuning encer, suwiran ikan asap, kacang goreng, dan daun bawang. Satu mangkuk harganya lebih murah daripada segelas kopi di kota besar. Saya makan sambil berdiri pada pagi pertama, lalu pada pagi kedua Mak Inah menggeser bangku plastik untuk saya tanpa ditanya.
“Jualan itu sampai habis saja. Kalau jam tujuh sudah habis, ya pulang. Kalau belum habis, ya tetap pulang, sisanya dibagi tetangga.”
Yang dijual dan yang tidak
Selain bahan dapur, pasar ini menjual hal-hal yang jarang saya lihat di tempat lain: garam kasar dalam bumbung bambu, gula aren berbentuk setengah batok, sapu dari pelepah, dan kue-kue basah yang namanya harus saya tanyakan satu per satu. Favorit saya kue berbahan sagu dan kelapa parut yang dibungkus daun, masih hangat ketika dibuka.
Yang tidak dijual di sini adalah suvenir. Tidak ada gantungan kunci, tidak ada kaus bertuliskan nama kota. Pasar ini untuk warga, dan pengunjung seperti saya hanyalah penonton yang kebetulan lapar.
Ada pula seorang bapak yang hanya menjual pisau dapur dan jasa mengasahnya. Batu asahnya sudah cekung di tengah. Ia bekerja tanpa bicara, menguji ketajaman pada selembar daun pisang, lalu mengembalikan pisau kepada pemiliknya dengan gagang lebih dulu.
Setelah pasar bubar
Pukul tujuh lewat sedikit, lapak mulai dibongkar. Saya membawa kue bungkus daun dan sekantong jeruk kecil ke kedai kopi di sudut Jalan Kapitan, tempat para pedagang biasa singgah sebelum pulang. Kopinya diseduh dalam teko seng dan dituang dari ketinggian yang membuat saya khawatir.
Di kedai itu saya baru mengerti mengapa pasar ini bertahan. Bukan karena harganya, bukan pula karena letaknya, melainkan karena semua orang saling kenal. Pembeli tahu kapan cucu pedagang lahir; pedagang tahu siapa yang sedang sakit dan menitipkan sayur untuknya. Saya, yang baru tiga pagi datang, sudah ditanya kapan pulang dan kenapa buru-buru.
Sedikit saran kalau Anda datang: bawa uang pecahan kecil, bawa tas belanja sendiri, dan selalu minta izin sebelum memotret. Kebanyakan pedagang akan mengiyakan, beberapa menolak dengan halus, dan keduanya patut dihormati.
Yang saya bawa
- Tas belanja kain
- Uang pecahan kecil
- Kamera saku (dipakai seperlunya)
- Sandal yang boleh basah
- Wadah kecil untuk kue basah
Daftar lengkap yang bisa dicentang ada di halaman perlengkapan.
Perjalanan ini saya biayai sendiri, tanpa sponsor. Baca kebijakan kerja sama dan transparansi.