Itinerary Dataran Tinggi Wanasari
Itinerary 3 Hari 2 Malam di Dataran Tinggi Wanasari
Susunan tiga hari yang saya jalani di Wanasari: berjalan di antara blok kebun teh, mampir ke Curug Lirih, dan pulang sebelum kabut sore turun. Tanpa kendaraan sewaan.
Nadia Prameswari
· 3 menit baca · 567 kata
Wanasari bukan tempat yang perlu dikejar. Hampir semua yang ingin saya lihat ada dalam jarak jalan kaki dari Desa Giriwening, desa terakhir yang dilewati angkutan dari kota kecamatan. Itinerary ini saya susun dengan satu aturan: tidak lebih dari dua kegiatan utama per hari, dan sore selalu kosong.
Aturan itu bukan soal malas. Kabut di Wanasari biasanya turun setelah pukul tiga sore, dan begitu turun, jarak pandang tinggal belasan meter. Memaksakan jadwal sore berarti berjalan pulang dalam gelap putih dengan sepatu basah. Saya pernah mencobanya pada kunjungan pertama dan tidak ingin mengulang.
Menginap di mana
Saya menginap di rumah warga di Giriwening, kamar sederhana dengan selimut tebal dan kamar mandi di luar. Air panasnya dari ceret yang direbus tuan rumah, cukup satu ember kecil untuk mandi sore. Ada juga beberapa penginapan kecil di dekat pertigaan kota kecamatan, lebih nyaman tetapi berarti harus naik angkutan dua kali sehari.
Kalau baru pertama kali, pilih yang di desa. Bangun pagi lalu langsung berjalan ke kebun tanpa menunggu angkutan adalah separuh dari kenikmatan tempat ini.
Makan diurus tuan rumah: nasi hangat, sayur dari kebun belakang, tempe goreng, dan sambal yang pedasnya jujur. Kabari sejak pagi kalau Anda tidak makan siang di rumah, supaya tidak ada yang terbuang.
Berjalan di blok kebun
Kebun teh di Wanasari dibagi menjadi blok bernomor. Jalan setapak di antaranya boleh dilewati, tetapi pada blok yang sedang dipetik sebaiknya minta izin mandor dulu. Pada hari kedua saya berjalan bersama Kang Uded, pemuda desa yang sesekali menemani tamu.
“Pemetik mulai dari jam enam, selesai sebelum panas. Kalau mau lihat kebun yang hidup, datangnya pagi. Siang itu tinggal daun sama angin.”
Rute yang ia tunjukkan melingkar dari Blok Tiga ke Blok Sembilan, sekitar tujuh kilometer dengan tanjakan landai. Di Blok Sembilan ada bangku kayu menghadap lembah; kami duduk di sana hampir satu jam tanpa banyak bicara. Dalam perjalanan pulang kami melewati tempat penimbangan pucuk, tempat para pemetik mengantre dengan keranjang di punggung.
Curug Lirih dan kedai teh
Curug Lirih adalah air terjun kecil, tingginya mungkin dua belas meter, dan sesuai namanya suaranya memang tidak menggelegar. Jalan setapak ke sana menurun sekitar tiga puluh menit dari jalan desa. Datanglah sebelum pukul sembilan; setelah itu rombongan dari kota kecamatan mulai berdatangan.
Sepulang dari curug, saya selalu berhenti di kedai teh dekat tempat penimbangan. Menunya pendek: teh tubruk panas, gorengan, dan nasi dengan tumis pucuk labu. Teh disajikan dalam gelas belimbing tanpa gula kecuali diminta. Dari bangku kedai terlihat para pemetik pulang dengan caping lebar, dan itu tontonan sore yang lebih baik daripada apa pun di layar.
Satu hal yang tidak saya duga: sore yang kosong ternyata bagian yang paling saya ingat. Duduk di teras dengan selimut di pundak, mendengar kabut menetes dari ujung genting, sementara tuan rumah menggoreng singkong di dapur. Tidak ada yang perlu difoto dan tidak ada yang perlu dikejar. Kalau Anda tipe yang gelisah tanpa kegiatan, bawalah buku atau kartu remi; kalau tidak, biarkan saja sore itu lewat pelan-pelan.
Catatan sebelum berangkat
Angkutan desa terakhir ke kota kecamatan berangkat sekitar pukul tiga sore. Pada hari ketiga, jangan menjadwalkan apa pun setelah makan siang. Suhu malam cukup dingin untuk membuat saya tidur dengan dua lapis kaus kaki, jadi jaket hangat bukan pilihan, melainkan keharusan. Rincian hari demi hari dan contoh biayanya ada di bawah.
Itinerary hari demi hari
Ketuk tiap bagian untuk membuka rinciannya. Jam hanya perkiraan dari perjalanan saya.
Hari 1 Tiba, menaruh ransel, jalan sore pendek
- Pagi: bus antarkota ke kota kecamatan, lanjut angkutan desa ke Giriwening.
- Siang: makan di rumah tuan rumah, istirahat.
- Pukul 14.00: jalan pendek ke Blok Tiga (40 menit pulang-pergi) sebelum kabut turun.
- Sore: teh di teras, tidur awal.
Hari 2 Lingkar Blok Tiga–Blok Sembilan dan kedai teh
- Pukul 06.00: berangkat jalan kaki, melihat pemetik mulai bekerja.
- Pukul 08.30: istirahat di bangku Blok Sembilan.
- Pukul 10.30: tempat penimbangan pucuk, lanjut makan di kedai teh.
- Siang sampai sore: kosong. Baca buku, cuci baju, tidur siang.
Hari 3 Curug Lirih, lalu pulang
- Pukul 06.30: jalan ke Curug Lirih (30 menit turun, 40 menit naik).
- Pukul 09.30: sarapan kedua di kedai teh.
- Pukul 12.00: berkemas dan pamit.
- Pukul 13.30: angkutan desa ke kota kecamatan, lanjut bus pulang.
Rincian biaya (contoh)
Untuk 1 orang, 3 hari 2 malam, gaya hemat.
| Pos pengeluaran | Rincian | Jumlah |
|---|---|---|
| Bus antarkota pergi-pulang | – | Rp90.000 |
| Penginapan rumah warga | 2 malam × Rp110.000 | Rp220.000 |
| Makan | 3 hari × Rp65.000 | Rp195.000 |
| Angkutan desa dan ojek | – | Rp85.000 |
| Karcis kebun dan Curug Lirih | – | Rp35.000 |
| Teh dan camilan di kedai | – | Rp40.000 |
| Total | Rp665.000 | |
Uang lelah untuk Kang Uded saya berikan sukarela dan tidak saya masukkan ke tabel. Semua angka adalah contoh untuk demo, bukan harga sungguhan.
Yang saya bawa
- Jaket hangat dan kaus kaki tebal
- Jas hujan ringan
- Sepatu jalan yang sudah nyaman dipakai
- Termos kecil
- Buku bacaan untuk sore berkabut
Daftar lengkap yang bisa dicentang ada di halaman perlengkapan.
Perjalanan ini saya biayai sendiri, tanpa sponsor. Baca kebijakan kerja sama dan transparansi.