Cerita perjalanan Pulau Tanarawa
Tiga Hari Tanpa Sinyal di Pantai Batu Lesung
Di sisi barat Pulau Tanarawa ada pantai tanpa warung, tanpa sinyal, dan hampir tanpa pengunjung. Saya tinggal tiga hari di sana dan pulang dengan buku catatan yang penuh.
Nadia Prameswari
· 3 menit baca · 539 kata
Kapal kayu dari daratan utama merapat di Dermaga Labuhan Kecil pukul sembilan pagi. Penumpangnya dua puluhan orang, sebagian besar warga pulau yang pulang membawa beras, galon, dan satu kandang ayam. Saya satu-satunya yang membawa ransel, dan itu cukup untuk membuat seorang ibu di sebelah saya bertanya mau ke mana.
Saya jawab, ke pantai barat. Ia tertawa kecil. “Di sana tidak ada apa-apa, Mbak,” katanya. Belakangan saya tahu ibu itu bernama Bu Rukmi, dan rumah singgah tempat saya menginap ternyata miliknya.
Jalan lingkar dan ujung aspal
Tanarawa hanya punya satu jalan lingkar. Dari dermaga, aspal bertahan sekitar enam kilometer, lalu berganti jalan tanah yang dipadatkan. Saya menyewa sepeda motor tua dari tetangga Bu Rukmi dan berkendara pelan melewati kebun kelapa, pohon sukun yang buahnya bergantungan rendah, dan beberapa ekor kambing yang tidak mau menepi.
Pantai Batu Lesung ada di ujung jalan tanah itu. Namanya berasal dari batu-batu besar berlubang di tepi air, yang menurut warga dulu dipakai menumbuk garam. Saya tidak tahu apakah cerita itu benar, tetapi lubang-lubangnya memang seukuran lesung dan penuh air laut yang hangat ketika surut.
Hari tanpa notifikasi
Sinyal telepon hilang kira-kira satu kilometer sebelum pantai. Hari pertama, tangan saya masih merogoh saku setiap sepuluh menit. Hari kedua, saya meninggalkan telepon di kamar dan hanya membawa buku catatan, botol minum, dan nasi bungkus dari dapur Bu Rukmi.
Tanpa layar, hari terasa panjang dengan cara yang menyenangkan. Saya menghitung perahu yang lewat di kejauhan (empat sampai tengah hari), mengamati kepiting kecil yang memindahkan pasir butir demi butir, dan tidur di bawah pohon ketapang sampai bayangan dahannya bergeser dari kaki ke wajah.
Menjelang sore datang dua anak kampung mencari kerang. Mereka menunjukkan cara membedakan kerang yang masih hidup dari cangkang kosong, lalu pergi lagi tanpa pamit. Itu satu-satunya percakapan saya di pantai hari itu.
“Orang kota datang ke sini mencari sepi, lalu bingung sendiri waktu sepinya betul-betul ada. Biasanya hari ketiga baru betah.”
Makan malam di dapur belakang
Listrik di kampung barat hanya menyala dari magrib sampai menjelang subuh. Makan malam dimasak di dapur belakang dengan tungku kayu: ikan bakar yang dibeli sore itu dari perahu tetangga, sambal tomat mentah, dan sayur daun kelor. Bu Rukmi menolak ketika saya menawarkan diri mencuci piring, lalu menyerah pada malam kedua.
Dari beliau saya belajar bahwa pantai barat sepi bukan karena jelek, melainkan karena warga memang jarang punya alasan ke sana. Kebun ada di timur, dermaga ada di timur, sekolah ada di timur. Barat adalah tempat orang pergi kalau ingin sendirian, dan menurut Bu Rukmi, orang pulau jarang ingin sendirian.
Yang saya bawa pulang
Pada pagi terakhir saya berjalan dari Batu Lesung ke Pantai Pasir Gading di sebelahnya, kira-kira empat puluh menit menyusuri garis air. Tidak ada yang istimewa secara pemandangan; pasirnya sama, lautnya sama. Tetapi setelah tiga hari, saya mulai bisa membedakan suara ombak saat pasang dan saat surut, dan itu terasa seperti kemewahan.
Kalau ingin ke sini, bawalah bekal, buku, dan kesabaran. Jangan berharap ada kedai kopi dengan pemandangan laut. Yang ada hanya laut, dan itu sudah lebih dari cukup. Rincian pengeluaran saya selama di pulau ada di catatan biaya terpisah.
Yang saya bawa
- Buku catatan dan dua pensil
- Botol minum 1 liter
- Sarung untuk alas duduk dan selimut
- Senter kepala
- Kantong kain untuk membawa pulang sampah
- Tabir surya dan topi lebar
Daftar lengkap yang bisa dicentang ada di halaman perlengkapan.
Perjalanan ini saya biayai sendiri, tanpa sponsor. Baca kebijakan kerja sama dan transparansi.