Catatan Tangan Belum Usang
Di ruang kuliah yang penuh laptop, buku catatan tampak seperti peninggalan masa lalu. Penulis berpendapat menulis tangan masih punya tempat, terutama untuk mata kuliah yang menuntut pemahaman, bukan hafalan.
Oleh Laras Ayuningtyas
Penyunting: Nadia Prameswari
1 menit baca · 257 kata
Opini adalah pandangan penulis. Tulisan di rubrik ini tidak mewakili sikap redaksi Suara Kampus Arunika maupun Universitas Arunika Nusantara.
Di kelas Teori Sastra semester ini, saya menghitung: dari 42 mahasiswa, hanya enam yang masih membawa buku catatan. Sisanya mengetik, memotret papan tulis, atau menunggu salindia dibagikan. Saya termasuk enam orang itu, dan cukup sering ditanya mengapa.
Jawaban saya bukan soal romantisme kertas. Saya mengetik jauh lebih cepat daripada menulis, dan justru di situlah masalahnya. Ketika mengetik, saya cenderung menyalin kalimat dosen kata demi kata. Ketika menulis tangan, saya tidak sempat. Saya terpaksa memilih, meringkas, dan memakai kata-kata sendiri.
Proses memilih itulah yang membuat saya paham. Catatan ketikan saya lengkap tetapi asing saat dibaca ulang. Catatan tangan saya berantakan, penuh panah dan coretan, tetapi saya ingat mengapa tiap panah itu ada.
Bukan untuk semua hal
Saya tidak menyarankan laptop ditinggalkan. Untuk mata kuliah yang penuh rumus panjang, kode program, atau data, mengetik jelas lebih masuk akal. Catatan digital juga mudah dicari dan dibagikan kepada teman yang berhalangan hadir.
“Saya tidak melarang laptop di kelas. Saya hanya meminta satu hal: tutup dulu sepuluh menit terakhir dan tulis dengan tangan apa yang kamu tangkap hari ini.”
Kebiasaan sepuluh menit itu saya tiru di semua mata kuliah. Hasilnya satu halaman ringkasan per pertemuan, yang ternyata menjadi bahan belajar paling berguna menjelang ujian.
Kalau ingin mencoba, mulailah dari satu mata kuliah saja. Siapkan satu buku, satu pena, dan izinkan catatan Anda jelek. Catatan yang rapi enak dipandang; catatan yang dipikirkan enak diingat.
Punya pandangan berbeda? Tanggapan dimuat di rubrik yang sama. Lihat pedoman kirim tulisan.
Topik mencatattips kuliahkebiasaan belajar
Tentang penulis
Laras Ayuningtyas
Redaktur Opini dan Resensi · Sastra Indonesia, semester 5
Menyunting naskah kiriman pembaca dan mengasuh rubrik Resensi. Membaca dua buku sebulan, salah satunya selalu buku yang tidak ada hubungannya dengan mata kuliah.