Organisasi atau IPK: Pilihan yang Keliru
Setiap awal semester, mahasiswa baru diberi nasihat yang sama: pilih salah satu. Padahal yang perlu dipilih bukan organisasi atau nilai, melainkan apa yang sanggup dikerjakan dengan sungguh-sungguh.
Oleh Nadia Prameswari
Penyunting: Laras Ayuningtyas
2 menit baca · 465 kata
Opini adalah pandangan penulis. Tulisan di rubrik ini tidak mewakili sikap redaksi Suara Kampus Arunika maupun Universitas Arunika Nusantara.
Pertanyaan itu selalu datang pada pekan kedua kuliah, biasanya dari mahasiswa baru yang baru pulang dari pameran unit kegiatan dengan lima brosur di tangan. Kak, lebih baik aktif organisasi atau fokus menjaga nilai? Selama tiga tahun saya menjawabnya dengan cara berbeda-beda, dan baru belakangan sadar bahwa pertanyaannya sendiri yang keliru.
Pertanyaan itu mengandaikan dua hal yang saling memakan. Seolah-olah setiap jam rapat adalah satu jam yang dicuri dari buku, dan setiap nilai A dibayar dengan satu kepanitiaan yang ditolak. Dalam pengalaman saya dan teman-teman di meja redaksi, hitungannya tidak pernah serapi itu.
Yang sebenarnya memakan waktu
Semester lalu saya mencatat pemakaian waktu saya sendiri selama empat pekan. Hasilnya memalukan sekaligus melegakan. Rapat dan liputan menghabiskan rata-rata 11 jam sepekan. Kuliah dan tugas 34 jam. Sementara waktu yang hilang begitu saja, menggulir layar tanpa tujuan dan menunda memulai, mencapai 19 jam.
Artinya, lawan nilai saya bukan organisasi. Lawannya adalah jam-jam yang tidak saya pakai untuk apa pun. Teman saya yang tidak mengikuti satu organisasi pun mengaku punya angka yang mirip, hanya saja tanpa rapat.
Saya tidak sedang mengatakan semua orang harus berorganisasi. Ada mahasiswa yang bekerja paruh waktu, mengurus keluarga, atau memang butuh waktu belajar lebih panjang. Bagi mereka, menolak kepanitiaan adalah keputusan yang sehat. Yang saya persoalkan adalah nasihat pukul rata yang membuat orang merasa harus memilih kubu.
Tiga pertanyaan pengganti
Daripada bertanya organisasi atau nilai, saya mengusulkan tiga pertanyaan lain yang lebih berguna.
- Berapa jam sepekan yang benar-benar saya punya setelah kuliah, tugas, dan tidur yang cukup?
- Kegiatan mana yang memberi saya keterampilan yang tidak diajarkan di kelas?
- Apa yang akan saya lepaskan lebih dulu kalau semuanya mulai berantakan?
Pertanyaan ketiga paling penting dan paling jarang dijawab. Banyak teman saya tumbang bukan karena mengambil terlalu banyak, melainkan karena tidak pernah memutuskan mana yang boleh dilepas. Ketika pekan ujian datang bersamaan dengan acara besar, mereka mencoba mempertahankan semuanya dan kehilangan dua-duanya.
“Mahasiswa yang paling saya khawatirkan bukan yang sibuk, melainkan yang tidak tahu untuk apa ia sibuk.”
Satu saja, tetapi sungguh-sungguh
Kalau harus memberi saran praktis, saran saya begini: pada tahun pertama, pilih satu kegiatan dan kerjakan dengan sungguh-sungguh. Bukan lima kegiatan dengan lima kaus panitia. Satu tempat di mana Anda datang tepat waktu, menyelesaikan bagian Anda, dan berani mengatakan tidak sanggup sebelum tenggat, bukan sesudahnya.
Kebiasaan itu, menurut saya, lebih berharga daripada daftar panjang di riwayat hidup. Kebiasaan itu pula yang ternyata menolong nilai: orang yang terbiasa menepati tenggat rapat cenderung menepati tenggat tugas.
Jadi kepada mahasiswa baru yang bertanya pekan ini, jawaban saya bukan organisasi dan bukan nilai. Jawaban saya: hitung dulu waktumu, pilih sedikit, lalu kerjakan dengan baik. Nilai dan organisasi akan menemukan tempatnya masing-masing.
Punya pandangan berbeda? Tanggapan dimuat di rubrik yang sama. Lihat pedoman kirim tulisan.
Topik organisasikebiasaan belajarmahasiswa baru
Tentang penulis
Nadia Prameswari
Pemimpin Redaksi · Ilmu Komunikasi, semester 7
Bergabung sejak semester pertama sebagai reporter Kabar Kampus. Kini memimpin rapat redaksi tiap Senin sore dan masih menyempatkan menulis opini tentang kebiasaan belajar mahasiswa.