← Galeri
Pesan
Demo oleh abcweb.id
Langsung ke isi

Edisi No. 148 · Tahun XII

Suara KampusArunika

Buletin pers mahasiswa Universitas Arunika Nusantara
Menu
Sosok

Raka Mahesa, Memetakan Kampus dari Atas Kursi Roda

Mahasiswa Perencanaan Wilayah itu menghabiskan lima bulan mengukur setiap tanjakan, pintu, dan trotoar di kampus. Petanya kini dipakai Bagian Sarana untuk menentukan perbaikan.

Oleh Dimas Anggoro

Penyunting: Bagas Wiratama

2 menit baca · 465 kata

Koridor gedung yang kosong dan rata dengan cahaya matahari masuk dari jendela di sisi kanan
Ilustrasi koridor gedung berlantai rata.

Raka Mahesa tahu persis berapa lebar pintu toilet di lantai dasar Gedung Kuliah Bersama: 74 sentimeter. Ia juga tahu bahwa lebar kursi rodanya 66 sentimeter, dan bahwa selisih delapan sentimeter itu habis ketika daun pintu tidak bisa dibuka penuh. Angka-angka semacam itu ia simpan dalam sebuah peta.

Mahasiswa semester tujuh Program Studi Perencanaan Wilayah itu memakai kursi roda sejak masuk kuliah. Pada tahun pertamanya, ia menghafal kampus dengan cara yang tidak dialami kebanyakan mahasiswa: jalur mana yang bisa dilalui sendiri, mana yang perlu didorong teman, dan mana yang lebih baik dihindari.

Dari hafalan menjadi peta

Gagasan memetakan muncul ketika seorang mahasiswa baru yang juga memakai kursi roda bertanya kepadanya lewat pesan singkat: lewat mana menuju perpustakaan? Raka menulis jawaban sepanjang dua layar. Saat itulah ia sadar bahwa pengetahuan di kepalanya seharusnya bisa dibaca orang lain.

Selama lima bulan, bersama enam relawan dari himpunan mahasiswa program studinya, ia menyusuri 14 kilometer jalur pejalan kaki di kampus. Mereka mengukur kemiringan 58 tanjakan dengan alat ukur sederhana, mencatat 212 pintu, dan menandai setiap trotoar yang terputus.

“Saya tidak ingin membuat daftar keluhan. Saya ingin membuat peta yang bisa dipakai besok pagi oleh orang yang baru pertama kali datang.”

Raka Mahesa

Hasilnya adalah peta kampus dengan tiga warna jalur. Hijau untuk jalur yang bisa dilalui mandiri, kuning untuk jalur yang memerlukan bantuan, merah untuk jalur yang tidak bisa dilalui kursi roda. Dari 14 kilometer itu, 8,3 kilometer berwarna hijau, 3,9 kuning, dan 1,8 merah.

Dibaca oleh yang berwenang

Raka mencetak peta itu dalam ukuran besar dan membawanya ke Bagian Sarana dan Prasarana. Ia mengaku tidak berharap banyak. Di luar dugaannya, peta itu ditempel di ruang rapat.

Kepala Seksi Pemeliharaan Gedung, Sugeng Prayitno, mengatakan peta tersebut membantu timnya menyusun urutan perbaikan. Selama ini laporan kerusakan datang satu per satu tanpa gambaran utuh.

“Kami jadi tahu bahwa memperbaiki satu tanjakan di dekat kantin bisa menyambung dua jalur hijau yang panjang. Tanpa peta, kami tidak akan melihat itu.”

Sugeng Prayitno, Kepala Seksi Pemeliharaan Gedung

Sejak awal semester, sembilan titik merah sudah diperbaiki, termasuk tanjakan di depan Graha Pustaka yang kemiringannya dilandaikan dan diberi pegangan tangan.

Skripsi dan sesudahnya

Peta itu kini menjadi bahan skripsi Raka. Dosen pembimbingnya, Dr. Indah Kusumastuti, mendorongnya menambahkan satu bab tentang cara memperbarui peta, agar pekerjaan itu tidak berhenti ketika ia lulus.

Raka sudah menyiapkan jawabannya. Ia melatih empat mahasiswa tingkat dua untuk mengulang pengukuran setiap awal semester. Formulir pencatatannya ia sederhanakan menjadi satu halaman.

Ditanya apa yang paling ia inginkan dari kampus, Raka tidak menyebut lift atau gedung baru. Ia menyebut hal yang lebih kecil: agar setiap pintu yang seharusnya bisa dibuka penuh, memang dibuka penuh. Delapan sentimeter, katanya, kadang menentukan apakah seseorang bisa masuk kelas sendiri atau harus menunggu orang lewat.

Topik aksesibilitasriset mahasiswasosok mahasiswa

Tentang penulis

Dimas Anggoro

Fotografer dan Reporter Sosok · Desain Komunikasi Visual, semester 5

Memotret untuk hampir semua rubrik dan merancang sampul edisi cetak. Menulis rubrik Sosok karena, katanya, memotret orang membuatnya ingin tahu ceritanya.

Lihat susunan redaksi

Tulisan Terkait