← Galeri
Pesan
Demo oleh abcweb.id
Langsung ke isi

Edisi No. 148 · Tahun XII

Suara KampusArunika

Buletin pers mahasiswa Universitas Arunika Nusantara
Menu
Liputan Khusus

Sensor Kelembapan Murah dari Kebun Percobaan Lereng Wetan

Empat mahasiswa lintas fakultas merakit alat pemantau kelembapan tanah seharga Rp185.000 per unit. Setelah satu musim tanam, pemakaian air di petak uji turun hampir sepertiga.

Oleh Yoga Pradipta

Penyunting: Bagas Wiratama

2 menit baca · 459 kata

Tanaman sayur muda berdaun hijau terang tumbuh di tanah gembur di antara dedaunan
Ilustrasi tanaman muda di petak kebun.

Di petak nomor tujuh Kebun Percobaan Lereng Wetan, sebatang pipa putih setinggi lutut menancap di antara barisan cabai. Di ujungnya ada kotak plastik bekas wadah makanan, dilubangi untuk kabel, dan ditutup rapat dengan karet ban. Benda yang tampak seadanya itu adalah hasil kerja delapan bulan empat mahasiswa Universitas Arunika Nusantara.

Mereka menamai alat itu Tetes. Fungsinya satu: mengukur kelembapan tanah pada kedalaman 15 sentimeter, lalu menyalakan lampu kecil berwarna hijau, kuning, atau merah. Hijau berarti tanah cukup basah, kuning berarti siram besok, merah berarti siram sekarang.

Berangkat dari jadwal siram

Gagasannya muncul dari keluhan pengelola kebun. Selama ini penyiraman mengikuti jadwal tetap, pagi dan sore, tanpa melihat kondisi tanah. Pada musim peralihan, jadwal itu sering berlebihan.

Ketua tim, Galih Prasetyo dari Program Studi Agroteknologi, mengajak dua rekannya dari Teknik Elektro dan satu dari Statistika. Mereka mendapat dana Rp4,5 juta dari Hibah Riset Mahasiswa Arunika, program internal kampus untuk penelitian tingkat sarjana.

“Sensor pabrikan yang bagus harganya di atas satu juta per titik. Untuk kebun mahasiswa itu tidak masuk akal. Kami ingin alat yang kalau rusak, tidak membuat orang menangis.”

Galih Prasetyo, ketua tim Tetes

Rp185.000 per unit

Satu unit Tetes dirakit dari papan mikrokontroler sederhana, sensor kapasitif, tiga lampu, dan dua baterai isi ulang. Biaya bahannya Rp185.000. Wadah dan pipa memakai barang bekas dari gudang kebun.

Tim memasang 12 unit di enam petak cabai: tiga petak disiram mengikuti lampu, tiga petak lain tetap mengikuti jadwal lama sebagai pembanding. Pencatatan dilakukan selama 96 hari, satu musim tanam penuh.

Hasilnya, petak yang mengikuti lampu menghabiskan rata-rata 2.140 liter air, sedangkan petak pembanding 3.080 liter. Selisihnya sekitar 31 persen. Berat panen kedua kelompok nyaris sama, hanya terpaut 2 persen.

Catatan pembimbing

Dosen pembimbing tim, Dr. Sri Wahyuningsih dari Fakultas Pertanian dan Pangan, mengingatkan agar angka itu dibaca hati-hati. Enam petak dalam satu musim belum cukup untuk menarik kesimpulan umum, apalagi untuk jenis tanah yang berbeda.

“Yang saya hargai bukan angka tiga puluh persennya, melainkan cara mereka mencatat. Setiap siraman ditulis, setiap alat yang mati dilaporkan. Itu kebiasaan riset yang benar.”

Dr. Sri Wahyuningsih, dosen pembimbing

Selama uji coba, tiga dari 12 unit sempat mati karena air hujan merembes ke dalam wadah. Tim mengganti tutup dengan karet ban dalam, dan sejak itu tidak ada lagi unit yang rusak.

Langkah berikutnya

Pada musim tanam mendatang, tim akan mengulang percobaan di petak tomat dan sawi dengan 30 unit. Panduan perakitan setebal sembilan halaman sudah mereka titipkan di perpustakaan fakultas dan boleh disalin siapa saja.

Pengelola kebun, Pak Sutikno, mengaku awalnya ragu. Kini ia memeriksa lampu-lampu kecil itu tiap pagi sebelum membuka keran. Katanya, ia tetap mencubit tanah dengan jari untuk memastikan, dan sejauh ini jari dan lampu hampir selalu sepakat.

Topik riset mahasiswapertanianteknologi tepat guna

Tentang penulis

Yoga Pradipta

Reporter Liputan Khusus · Teknik Sipil, semester 5

Terbiasa menghitung sebelum menulis: jumlah kursi, jam buka, jarak antargedung. Percaya bahwa liputan fasilitas kampus harus dimulai dengan berjalan kaki mengelilinginya.

Lihat susunan redaksi

Tulisan Terkait