Pukul Lima di Halte Kampus: Tujuh Belas Menit yang Sabar
Film pendek produksi Unit Sinema Layar Fajar ini hanya punya satu lokasi dan dua pemain. Kesabarannya menunggu menjadi kekuatan sekaligus ujian bagi penonton.
Oleh Dimas Anggoro
Penyunting: Laras Ayuningtyas
1 menit baca · 241 kata
Seluruh film ini berlangsung di satu halte bus kampus, pada satu sore, dalam waktu yang nyaris sama dengan durasi filmnya. Dua mahasiswa yang tidak saling kenal menunggu bus terakhir. Yang satu baru gagal sidang proposal, yang lain baru diterima magang. Keduanya tidak mengatakannya.
Sutradara Arya Wicaksono, mahasiswa Ilmu Komunikasi semester lima, memilih cara bercerita yang berani untuk ukuran film mahasiswa: hampir tanpa dialog pada tujuh menit pertama. Kamera diam di seberang jalan, dan kita mengamati dua orang yang berusaha tidak saling memandang.
Suara yang bekerja
Yang paling menonjol adalah tata suaranya. Derum bus yang ternyata bukan bus mereka, bunyi sandal penjual minuman, dan pengumuman dari pengeras suara masjid kampus tersusun rapi. Suara-suara itu menceritakan waktu yang berjalan lebih baik daripada jam di layar.
“Kami merekam suara halte itu selama tiga sore sebelum mengambil gambar satu kali pun.”
Kedua pemain bermain tertahan dan meyakinkan. Percakapan mereka, ketika akhirnya terjadi, terdengar seperti percakapan sungguhan di halte: tentang cuaca, lalu tentang bus, baru kemudian tentang hal yang penting.
Catatan
Kesabaran film ini tidak selalu terbayar. Pertengahan film terasa mengulang, dan penutupnya terlalu rapi untuk cerita yang sejak awal menghindari kesimpulan. Pencahayaan pada adegan senja juga tidak konsisten antarpengambilan gambar.
Film ini diputar bersama empat film pendek lain dalam Layar Tancap Mahasiswa di Balairung Arunika. Jadwal pemutaran ulang dimuat di halaman Agenda.
Topik film pendeksinema kampusunit kegiatan
Tentang penulis
Dimas Anggoro
Fotografer dan Reporter Sosok · Desain Komunikasi Visual, semester 5
Memotret untuk hampir semua rubrik dan merancang sampul edisi cetak. Menulis rubrik Sosok karena, katanya, memotret orang membuatnya ingin tahu ceritanya.