← Galeri
Pesan
Demo oleh abcweb.id
Langsung ke isi

Edisi No. 148 · Tahun XII

Suara KampusArunika

Buletin pers mahasiswa Universitas Arunika Nusantara
Menu
Resensi

Musim Hujan di Asrama Timur: Novel tentang Tahun Pertama yang Tidak Heroik

Novel perdana Ranti Wulandari menolak godaan menjadi kisah sukses. Yang ia tulis adalah tahun pertama kuliah apa adanya: sepi, canggung, dan pelan-pelan membaik.

Oleh Laras Ayuningtyas

Penyunting: Nadia Prameswari

1 menit baca · 263 kata

Deretan buku tua berdiri berjajar, dilihat dari sisi halaman, dengan latar buram
Ilustrasi deretan buku.

Novel tentang kehidupan kampus biasanya memilih satu dari dua jalan: kisah cinta atau kisah perjuangan menuju wisuda. Musim Hujan di Asrama Timur tidak mengambil keduanya. Novel ini bercerita tentang Sasmita, mahasiswa baru dari kota kecil di pesisir, yang menghabiskan semester pertamanya nyaris tanpa bicara dengan siapa pun.

Tidak ada peristiwa besar di dalamnya. Sasmita salah masuk kelas, makan sendirian di kantin, dan menelepon ibunya sambil berpura-pura sudah punya banyak teman. Ranti Wulandari menulis semua itu dengan kalimat pendek dan tenang, tanpa memaksa pembaca merasa iba.

Kekuatan pada hal kecil

Bagian terbaik novel ini ada pada rinciannya. Bunyi hujan di atap seng tempat jemuran, antrean kamar mandi pukul lima pagi, dan cara penghuni kamar saling meminjam gantungan baju tanpa pernah berkenalan. Pembaca yang pernah tinggal di asrama akan sering mengangguk.

“Aku tidak kesepian, tulis Sasmita di buku hariannya. Aku hanya belum tahu harus duduk di meja yang mana.”

Kutipan dari halaman 61

Persahabatan Sasmita dengan Wening, teman sekamar yang cerewet, tumbuh sangat lambat, dan justru karena itu meyakinkan. Tidak ada adegan pengakuan yang mengharukan; yang ada hanyalah dua orang yang akhirnya berbagi payung.

Catatan

Kelemahannya ada pada sepertiga akhir. Konflik dengan seorang dosen wali muncul tiba-tiba dan selesai terlalu cepat, seolah penulis merasa wajib memberi puncak cerita. Beberapa tokoh pendamping juga hanya hadir sebagai nama.

Meski begitu, novel ini layak dibaca, terutama oleh mahasiswa tahun pertama dan siapa pun yang lupa betapa canggungnya masa itu. Graha Pustaka memiliki empat eksemplar di rak fiksi lantai dua.

Topik novelresensi bukukehidupan asrama

Tentang penulis

Laras Ayuningtyas

Redaktur Opini dan Resensi · Sastra Indonesia, semester 5

Menyunting naskah kiriman pembaca dan mengasuh rubrik Resensi. Membaca dua buku sebulan, salah satunya selalu buku yang tidak ada hubungannya dengan mata kuliah.

Lihat susunan redaksi

Tulisan Terkait