← Galeri
Pesan
Demo oleh abcweb.id
Langsung ke isi

Edisi No. 148 · Tahun XII

Suara KampusArunika

Buletin pers mahasiswa Universitas Arunika Nusantara
Menu
Resensi

Skripsi Tanpa Panik: Panduan yang Jujur soal Menunda

Buku tipis karya Hendra Kusnadi ini tidak menjanjikan skripsi selesai dalam tiga bulan. Yang ditawarkannya lebih berguna: cara memulai ketika kita tidak ingin memulai.

Oleh Laras Ayuningtyas

Penyunting: Bagas Wiratama

1 menit baca · 244 kata

Buku terbuka di atas meja putih dengan cangkir dan tanaman pot yang buram di belakangnya
Ilustrasi buku terbuka di meja belajar.

Rak buku panduan skripsi biasanya penuh janji: cepat lulus, anti revisi, langsung disetujui. Skripsi Tanpa Panik menarik karena sejak halaman pertama mengaku tidak bisa menjanjikan semua itu. Penulisnya, seorang mantan pembimbing akademik, hanya menawarkan satu gagasan: kerjakan sedikit, tetapi setiap hari.

Buku ini dibagi menjadi tiga bagian: memulai, bertahan, dan menyelesaikan. Bagian pertama paling kuat. Hendra Kusnadi menguraikan mengapa mahasiswa menunda, dan jawabannya bukan malas. Menurutnya kita menunda karena tugasnya terlalu besar untuk dibayangkan.

Aturan dua puluh lima menit

Saran utamanya sederhana: tetapkan satuan kerja terkecil, yaitu 25 menit dan satu paragraf. Bukan satu bab, bukan satu subbab. Penulis menyertakan lembar catatan harian yang bisa disalin, dengan kolom untuk tanggal, apa yang dikerjakan, dan apa langkah besok.

“Skripsi tidak ditulis pada hari-hari ketika Anda bersemangat. Skripsi ditulis pada hari-hari biasa.”

Kutipan dari bab 2

Bab tentang bimbingan juga berguna. Di sana ada contoh cara menulis pesan kepada dosen pembimbing, daftar pertanyaan yang sebaiknya dibawa ke tiap pertemuan, dan saran untuk mencatat hasil bimbingan segera setelah keluar ruangan.

Catatan

Bagian ketiga terasa terburu-buru. Pembahasan tentang sidang hanya sebelas halaman dan sebagian besar berisi nasihat umum. Contoh-contohnya juga condong ke penelitian sosial; mahasiswa teknik atau sains yang bekerja di laboratorium perlu menyesuaikan sendiri.

Untuk mahasiswa semester enam ke atas, buku ini bacaan satu akhir pekan yang sepadan. Bukan karena isinya baru, melainkan karena disampaikan tanpa menggurui.

Topik skripsiresensi bukutips kuliah

Tentang penulis

Laras Ayuningtyas

Redaktur Opini dan Resensi · Sastra Indonesia, semester 5

Menyunting naskah kiriman pembaca dan mengasuh rubrik Resensi. Membaca dua buku sebulan, salah satunya selalu buku yang tidak ada hubungannya dengan mata kuliah.

Lihat susunan redaksi

Tulisan Terkait