Skripsi Tanpa Panik: Panduan yang Jujur soal Menunda
Buku tipis karya Hendra Kusnadi ini tidak menjanjikan skripsi selesai dalam tiga bulan. Yang ditawarkannya lebih berguna: cara memulai ketika kita tidak ingin memulai.
Oleh Laras Ayuningtyas
Penyunting: Bagas Wiratama
1 menit baca · 244 kata
Rak buku panduan skripsi biasanya penuh janji: cepat lulus, anti revisi, langsung disetujui. Skripsi Tanpa Panik menarik karena sejak halaman pertama mengaku tidak bisa menjanjikan semua itu. Penulisnya, seorang mantan pembimbing akademik, hanya menawarkan satu gagasan: kerjakan sedikit, tetapi setiap hari.
Buku ini dibagi menjadi tiga bagian: memulai, bertahan, dan menyelesaikan. Bagian pertama paling kuat. Hendra Kusnadi menguraikan mengapa mahasiswa menunda, dan jawabannya bukan malas. Menurutnya kita menunda karena tugasnya terlalu besar untuk dibayangkan.
Aturan dua puluh lima menit
Saran utamanya sederhana: tetapkan satuan kerja terkecil, yaitu 25 menit dan satu paragraf. Bukan satu bab, bukan satu subbab. Penulis menyertakan lembar catatan harian yang bisa disalin, dengan kolom untuk tanggal, apa yang dikerjakan, dan apa langkah besok.
“Skripsi tidak ditulis pada hari-hari ketika Anda bersemangat. Skripsi ditulis pada hari-hari biasa.”
Bab tentang bimbingan juga berguna. Di sana ada contoh cara menulis pesan kepada dosen pembimbing, daftar pertanyaan yang sebaiknya dibawa ke tiap pertemuan, dan saran untuk mencatat hasil bimbingan segera setelah keluar ruangan.
Catatan
Bagian ketiga terasa terburu-buru. Pembahasan tentang sidang hanya sebelas halaman dan sebagian besar berisi nasihat umum. Contoh-contohnya juga condong ke penelitian sosial; mahasiswa teknik atau sains yang bekerja di laboratorium perlu menyesuaikan sendiri.
Untuk mahasiswa semester enam ke atas, buku ini bacaan satu akhir pekan yang sepadan. Bukan karena isinya baru, melainkan karena disampaikan tanpa menggurui.
Topik skripsiresensi bukutips kuliah
Tentang penulis
Laras Ayuningtyas
Redaktur Opini dan Resensi · Sastra Indonesia, semester 5
Menyunting naskah kiriman pembaca dan mengasuh rubrik Resensi. Membaca dua buku sebulan, salah satunya selalu buku yang tidak ada hubungannya dengan mata kuliah.