#45 Surat Senin
- Dari
- Laras Pramudita, Tirtasari
- Untuk
- Anda dan toko Anda
- Terbit
- , 06.00 WIB
- Perihal
- Waktu · 3 menit baca
Jam kosong di tengah hari
Hampir setiap usaha punya jam sepi yang datang pada waktu yang sama. Pertanyaannya: jam itu dipakai, atau hanya dilewati?
Halo, Sahabat Senin,
Antara pukul dua dan pukul empat sore, toko alat tulis milik Pak Hendra di Tirtasari nyaris tidak didatangi siapa pun. Anak sekolah sudah pulang, pegawai kantor belum keluar. Selama bertahun-tahun ia mengisi jam itu dengan duduk di belakang etalase, menunggu, sambil merasa bersalah karena tidak sibuk.
Jam sepi seperti itu hampir selalu ada, dan hampir selalu jatuh pada waktu yang sama setiap hari. Karena itu ia sebenarnya bukan gangguan, melainkan jadwal. Bedanya hanya apakah kita mengakuinya.
Cari dulu, jangan ditebak
Selama satu minggu, beri tanda turus di selembar kertas setiap kali ada pembeli, dikelompokkan per jam. Tidak perlu mencatat nilainya. Pada akhir minggu Anda akan melihat lembah yang jelas. Kebanyakan orang menebak jam sepinya dengan cukup tepat, tetapi keliru soal panjangnya: biasanya lebih panjang dari yang dikira.
Isi dengan pekerjaan yang butuh kepala tenang
Jam ramai menghabiskan tangan; jam sepi menyisakan kepala. Maka pekerjaan yang cocok untuk jam sepi adalah yang selalu tertunda karena butuh berpikir: menghitung ulang harga, merapikan stok, menulis pesan untuk pelanggan lama, atau mengisi buku kas.
Pak Hendra memilih satu pekerjaan untuk setiap hari. Senin stok, Selasa pesanan sekolah, Rabu harga, dan seterusnya. Ia menempel daftar itu di sisi dalam etalase.
“Dulu saya merasa menganggur. Sekarang jam dua itu jam kerja saya yang paling serius, cuma tidak ada pembelinya.”
Hasilnya baru terasa setelah sebulan. Rak yang dulu baru dirapikan ketika sudah berantakan kini selalu beres pada hari Senin. Pesanan dari dua sekolah di dekat toko tidak pernah lagi terlambat disiapkan, karena hari Selasa sore memang hanya untuk itu.
Ia tidak pernah mengerjakan lebih dari satu. Kalau pekerjaan hari itu selesai dalam empat puluh menit, sisa waktunya ia biarkan kosong, dan itu pun bagian dari rencana.
Ada satu pilihan lagi yang jarang dipertimbangkan: istirahat sungguhan. Kalau lembahnya memang dua jam penuh, tidur dua puluh menit di kursi belakang bukan kemalasan. Sore yang ramai butuh orang yang masih punya tenaga untuk tersenyum.
Salam dari meja kerja,
Laras Pramudita
Tiga catatan pendek
-
Turus lebih jujur dari ingatan
Kita mengingat hari yang luar biasa, bukan hari biasa. Seminggu turus per jam memberi gambaran yang lebih datar dan lebih benar.
-
Satu jam sepi, satu pekerjaan
Jangan membuat daftar lima tugas untuk jam sepi. Satu tugas yang selesai membuat Anda mau mengulanginya besok.
-
Papan "kembali pukul…"
Kalau harus keluar sebentar pada jam sepi, tulis jam kembali yang jelas. Pelanggan lebih rela menunggu waktu yang pasti.
Alat minggu ini
Lembar turus per jam
Kertas bergaris atau lembar kerja sederhana
Tabel tujuh hari kali jam buka. Setiap pembeli diberi satu garis. Di akhir minggu, arsir dua jam yang paling kosong.
Templat umum untuk disalin ke kertas atau lembar kerja apa pun. Bukan nasihat keuangan.
Tanya pembaca
“Kalau jam sepi saya pakai untuk hal lain, lalu tiba-tiba ada pembeli, bagaimana?”
Pembaca, kios pulsa dan fotokopi (contoh)
Pilih pekerjaan yang bisa ditinggal di tengah jalan tanpa rusak. Menghitung stok per rak bisa berhenti kapan saja; mengecat etalase tidak.
Dan tetaplah di tempat yang terlihat dari pintu. Pembeli yang melihat Anda sibuk bekerja biasanya lebih percaya daripada yang melihat Anda menatap jalan.
Balas surat ini
Sudah mencoba? Punya pertanyaan untuk edisi depan? Tulis saja. Contoh: tautan di bawah membuka pesan tanpa penerima.
Teruskan ke teman
Kenal pemilik usaha yang sedang memikirkan hal ini? Kirim surat ini kepadanya.