Halo, Sahabat Senin,
Minggu lalu saya duduk di bangku plastik sebuah kedai sarapan di Tirtasari, menunggu pemiliknya, Bu Wartini, selesai melayani antrean. Di samping laci uangnya ada buku tulis bersampul batik yang sudutnya sudah melengkung. Saya kira itu buku resep. Ternyata buku kas, dan isinya hanya tiga kolom: masuk, keluar, dan satu kolom sempit berjudul "kenapa".
Saya sudah melihat banyak catatan usaha kecil, dan hampir semuanya bernasib sama. Dimulai dengan semangat pada awal bulan, lengkap dengan dua belas kolom, kode warna, dan rumus. Pada minggu kedua kolomnya mulai bolong. Pada minggu keempat bukunya pindah ke bawah tumpukan nota. Buku Bu Wartini sudah berjalan empat tahun tanpa putus lebih dari tiga hari.
Lanjutkan membaca surat ini 4 menit baca