Cerita perjalanan Danau Merandai
Belajar Diam di Dermaga Kayu Merandai
Saya datang ke Danau Merandai dengan daftar kegiatan, lalu menghabiskan hampir seluruh waktu duduk di sebuah dermaga kayu. Ini catatan tentang tidak melakukan apa-apa.
Nadia Prameswari
· 2 menit baca · 314 kata
Dermaga kayu di Kampung Tepi panjangnya kira-kira tiga puluh langkah. Papan-papannya tidak rata, beberapa sudah diganti dengan kayu yang warnanya lebih muda, dan di ujungnya ada satu tiang tempat perahu ditambatkan. Saya tiba di sana pada pagi pertama dengan rencana duduk sepuluh menit sebelum mulai berkeliling.
Saya baru beranjak ketika perut berbunyi, kira-kira tiga jam kemudian.
Apa yang terjadi ketika tidak terjadi apa-apa
Pagi itu danau tertutup kabut tipis. Bukit di seberang hanya terlihat sebagai garis yang sedikit lebih gelap daripada langit. Sebuah perahu kecil bergerak melintang dengan sangat lambat; pendayungnya berdiri, mendorong air dengan galah panjang, dan tidak sekali pun menoleh.
Saya memperhatikan hal-hal yang biasanya tidak sempat diperhatikan: lingkaran di air ketika ikan menyentuh permukaan, capung yang hinggap di tiang lalu pindah, lalu kembali lagi ke tiang yang sama. Seorang bapak datang membawa pancing, mengangguk, duduk di sisi lain dermaga, dan kami berbagi keheningan selama satu jam tanpa merasa perlu berkenalan.
“Di sini orang mancing bukan cari ikan. Cari duduk.”
Daftar yang tidak dikerjakan
Daftar kegiatan saya memuat enam hal. Yang akhirnya saya kerjakan hanya dua: bersepeda mengelilingi danau dan makan ikan goreng di warung dekat dermaga. Empat lainnya saya coret tanpa rasa bersalah. Setiap pagi dan setiap sore saya kembali ke papan yang sama, dan danau tidak pernah memperlihatkan wajah yang persis sama dua kali.
Sore hari dermaga lebih ramai. Anak-anak pulang sekolah melompat ke air dari ujung papan, ibu-ibu mencuci di tepian, dan penyewa sepeda menghitung sepedanya yang kembali. Saya tetap duduk, kali ini dengan segelas teh dari warung, dan tidak seorang pun merasa itu aneh.
Saya pulang dari Merandai dengan sedikit foto dan catatan yang pendek. Tetapi untuk pertama kalinya dalam waktu lama, saya ingat betul seperti apa rasanya sebuah pagi dari awal sampai habis.
Yang saya bawa
- Jaket tipis untuk pagi
- Alas duduk lipat
- Buku yang akhirnya tidak dibaca
- Termos teh
Daftar lengkap yang bisa dicentang ada di halaman perlengkapan.
Perjalanan ini saya biayai sendiri, tanpa sponsor. Baca kebijakan kerja sama dan transparansi.