← Galeri
Pesan
Demo oleh abcweb.id
Jejak Pelan Catatan perjalanan lambat · Nadia Prameswari
Menu

Panduan Kota Lamaruna

Makan Apa di Lamaruna: Enam Warung yang Saya Datangi Dua Kali

Bukan daftar terbaik, hanya enam tempat makan di Kota Lamaruna yang cukup enak sampai saya kembali lagi keesokan harinya. Semua dalam jarak jalan kaki.

Nadia Prameswari
· 1 menit baca · 298 kata

Semangkuk mi berkuah dengan suwiran daging dan taburan renyah, dilihat dari dekat
Foto ilustrasi; Kota Lamaruna adalah tempat fiktif.

Ukuran saya sederhana: kalau saya kembali untuk kedua kalinya dalam satu kunjungan, tempat itu layak ditulis. Keenam tempat ini lolos ukuran tersebut. Harga yang saya sebut adalah contoh pada saat saya datang.

Tidak ada satu pun yang membayar atau meminta untuk ditulis. Saya datang sebagai pembeli biasa, antre seperti yang lain, dan membayar sendiri semua yang saya makan.

Pagi

Bubur Mak Inah di pasar pagi tetap nomor satu: bubur kental, kuah kuning, suwiran ikan asap. Datang sebelum pukul enam setengah kalau tidak ingin kehabisan. Setelah itu, kedai kopi di sudut Jalan Kapitan menyajikan kopi teko seng dan roti bakar isi selai srikaya buatan sendiri; roti dipanggang di atas arang, jadi sabar sedikit.

Siang

Warung nasi dekat simpang pelabuhan menata lauknya di balik kaca: ikan kuah asam, tumis bunga pepaya, perkedel jagung. Tunjuk saja, nanti dihitung di akhir. Untuk siang yang panas, ada kedai mi dingin di gang sebelah rumah arsip: mi telur, kuah kaldu ikan yang didinginkan, irisan timun, dan sambal jeruk. Kedengarannya aneh, rasanya masuk akal.

Ikan bakar di atas nasi berbumbu dengan irisan tomat dan lemon, dilihat dari atas
Ilustrasi: ikan bakar di atas nasi dengan irisan tomat dan lemon.

“Resepnya dari nenek. Dulu dimakan nelayan pulang melaut, biar badan adem. Saya cuma meneruskan, tidak mengubah apa-apa.”

Pemilik kedai mi di gang rumah arsip

Sore dan malam

Gerobak es serut di pelabuhan lama hanya punya tiga pilihan sirop dan satu ukuran gelas; pilih yang gula aren. Malamnya, warung tenda di ujung barat Jalan Kapitan membakar ikan di depan pembeli. Pesan ikan ukuran sedang untuk sendiri, dengan sambal mangga muda kalau sedang musim. Antreannya panjang selepas isya, jadi datanglah sedikit lebih awal.

Semua tempat ini hanya menerima uang tunai, dan tidak satu pun punya papan nama besar. Kalau bingung, tanya saja kepada siapa pun di jalan; di Lamaruna semua orang tahu warung mana yang dimaksud.

Yang saya bawa

  • Uang pecahan kecil
  • Tisu basah
  • Botol minum
  • Perut yang dikosongkan sejak pagi

Daftar lengkap yang bisa dicentang ada di halaman perlengkapan.

Perjalanan ini saya biayai sendiri, tanpa sponsor. Baca kebijakan kerja sama dan transparansi.

Tulisan terkait

Cerita perjalanan Kota Lamaruna

Pasar Pagi Lamaruna Sebelum Pukul Tujuh

Pasar pagi Kota Lamaruna ramai sejak sebelum subuh dan bubar ketika kebanyakan orang baru berangkat kerja. Saya datang tiga pagi berturut-turut dan selalu pulang kekenyangan.

· 3 menit baca

Itinerary Kota Lamaruna

Sehari Jalan Kaki di Kota Tua Lamaruna

Rute jalan kaki satu hari di Lamaruna: pasar pagi, kedai kopi, Jalan Kapitan, rumah arsip kota, dan pelabuhan lama menjelang senja. Total kurang dari enam kilometer.

· 2 menit baca

Panduan Pulau Tanarawa

Panduan Pertama Kali ke Pulau Tanarawa

Jadwal kapal, tempat menginap, uang tunai, dan listrik yang hanya menyala malam hari: hal-hal yang ingin saya ketahui sebelum pertama kali menyeberang ke Tanarawa.

· 2 menit baca