Catatan
Kenapa Saya Menimbang Bahan, Bukan Mengira-ngira
"Secukupnya" itu ilmu yang butuh bertahun-tahun. Sambil menuju ke sana, timbangan dan sendok takar membuat masakan tidak lagi untung-untungan.
Oleh Rahma Yuliani · · 1 menit baca
Ibu saya memasak tanpa pernah menakar. Garam sejumput, gula seujung sendok, santan "kira-kira segini". Masakannya selalu enak, dan justru karena itu saya dulu sering gagal menirunya.
Ketika mulai menulis resep pada 2019, saya memutuskan semua bahan harus punya angka. Bukan karena memasak harus kaku, melainkan karena angka adalah titik berangkat yang adil bagi orang yang belum pernah membuat masakan itu.
Angka di blog ini
Tepung, gula, dan santan saya tulis dalam gram dan mililiter. Bumbu kering memakai sendok teh dan sendok makan takar yang diratakan, bukan sendok makan di laci. Bawang dan cabai tetap dalam siung dan buah karena begitulah kita membelinya; ukuran yang saya maksud adalah ukuran sedang.
Setiap resep saya masak minimal tiga kali sebelum terbit. Percobaan ketiga biasanya dimasak oleh orang lain di rumah dengan hanya membaca catatan saya. Kalau hasilnya berbeda jauh, berarti tulisan saya yang belum jelas.
"Resep yang baik itu yang bisa dimasak adik saya tanpa menelepon saya di tengah jalan."
Lalu kapan boleh mengira-ngira?
Setelah membuat satu resep tiga atau empat kali, lidah Anda sudah lebih tahu daripada angka saya. Pada titik itu tambahkan cabai, kurangi gula, ganti sayurnya. Pengatur porsi di tiap halaman resep membantu menghitung ulang takaran, tetapi garam dan rasa asam tetap perlu dicicipi di akhir.