← Galeri
Pesan
Demo oleh abcweb.id
Langsung ke isi

Terbit tiap Senin 06.00 WIB

Surat Senin Nawala mingguan oleh Laras Pramudita
Menu

#39 Surat Senin

Dari
Laras Pramudita, Tirtasari
Untuk
Anda dan toko Anda
Terbit
, 06.00 WIB
Perihal
Harga · 3 menit baca

Menghitung ongkos diri sendiri

Bahan dihitung, sewa dihitung, listrik dihitung. Jam kerja pemiliknya sering tidak masuk hitungan sama sekali.

Kalkulator hitam di atas kertas bergaris yang penuh coretan hitungan tangan
Ilustrasi: kalkulator di atas kertas coretan.

Halo, Sahabat Senin,

Mbak Tantri membuat tas dari kain perca di ruang depan rumahnya di Tirtasari. Ia tahu persis harga kain, ritsleting, dan benang untuk setiap tas. Ketika saya tanya berapa lama satu tas dikerjakan, ia menjawab, "Ya sambil-sambil, tidak terasa."

Kalimat "tidak terasa" itu mahal. Selama waktu sendiri tidak dihitung, setiap harga akan tampak menguntungkan, dan setiap pesanan tambahan terasa seperti rezeki, padahal mungkin hanya menambah jam kerja tanpa menambah apa yang dibawa pulang.

Mulai dengan mengukur, bukan menilai

Jangan langsung bertanya "berapa nilai waktu saya". Pertanyaan itu terlalu besar. Mulailah dengan yang bisa diukur: berapa menit satu barang selesai dari awal sampai siap diserahkan, termasuk membeli bahan, membalas pesan, dan membungkus. Pakai jam dinding dan secarik kertas untuk lima barang berturut-turut.

Mbak Tantri mengira satu tas memakan satu setengah jam. Hasil pengukurannya hampir tiga jam, karena ia tidak pernah menghitung waktu memilih kain dan menjawab pertanyaan pembeli.

“Saya kira saya lambat menjahit. Ternyata menjahitnya cepat. Yang lama itu semua hal lain di sekelilingnya.”

Mbak Tantri, perajin tas kain perca (tokoh contoh)

Dari lima kali mengukur, ia juga menemukan bahwa tas dengan banyak saku memakan waktu dua kali lipat tas polos, padahal selisih harganya hanya sedikit. Tanpa jam dinding, hal itu tidak akan pernah kelihatan, karena kedua tas terasa sama melelahkannya di penghujung hari.

Angka sederhana sebagai pegangan

Setelah tahu jamnya, tentukan sendiri satu angka per jam yang menurut Anda pantas untuk pekerjaan itu. Tidak ada angka yang benar untuk semua orang. Kalikan dengan jam kerja per barang, tambahkan ke biaya bahan, lalu bandingkan dengan harga jual sekarang.

Mbak Tantri memilih angka yang kira-kira setara dengan upah penjahit harian di lingkungannya. Bukan karena itu angka yang ideal, melainkan karena mudah dipertanggungjawabkan kepada dirinya sendiri.

Hasilnya mungkin tidak enak dilihat. Itu tidak berarti harga harus langsung naik; bisa juga berarti ada langkah kerja yang perlu dipangkas, atau model tertentu yang sebaiknya tidak dibuat lagi. Yang penting, Anda memutuskan dengan mata terbuka. Ini kerangka berpikir umum, bukan nasihat keuangan.

Salam dari meja kerja,
Laras Pramudita

Tiga catatan pendek

  1. Hitung waktu membalas pesan

    Menjawab pertanyaan calon pembeli adalah pekerjaan. Catat selama tiga hari berapa lama itu memakan waktu Anda; hasilnya sering mengejutkan.

  2. Barang paling laku belum tentu paling layak

    Bandingkan jam kerja per barang. Kadang barang yang paling laris justru yang paling sedikit menyisakan hasil per jam.

  3. Jam dinding, bukan perkiraan

    Perkiraan waktu kerja sendiri hampir selalu terlalu rendah. Ukur lima kali, ambil rata-ratanya.

Alat minggu ini

Lembar ukur waktu per barang

Lembar kerja atau kertas bergaris

Tabel lima baris untuk lima barang berturut-turut dengan kolom jam mulai, jam selesai, dan pekerjaan sampingan (belanja, pesan, kemas). Baris bawah menghitung rata-rata.

  1. 1. Catat jam mulai sebelum menyentuh bahan.
  2. 2. Catat jam selesai setelah barang siap diserahkan.
  3. 3. Tambahkan waktu belanja, pesan, dan kemas.
  4. 4. Rata-ratakan lima barang, kalikan dengan angka per jam pilihan Anda.

Templat umum untuk disalin ke kertas atau lembar kerja apa pun. Bukan nasihat keuangan.

Tanya pembaca

“Kalau ongkos saya sendiri dihitung, harga jadi terlalu tinggi dibanding pesaing. Lalu bagaimana?”

Pembaca, katering nasi kotak rumahan (contoh)

Itu informasi yang berharga, bukan jalan buntu. Pilihannya ada tiga: mempersingkat waktu kerja per pesanan, menaikkan jumlah minimum pesanan supaya waktu tetap terbagi ke lebih banyak kotak, atau menerima bahwa sebagian pesanan memang tidak layak diambil.

Pesaing yang harganya lebih rendah mungkin juga tidak menghitung waktunya. Mengikuti harga mereka berarti mengikuti kelelahan mereka.

Balas surat ini

Sudah mencoba? Punya pertanyaan untuk edisi depan? Tulis saja. Contoh: tautan di bawah membuka pesan tanpa penerima.

Balas lewat WhatsApp Balas lewat email

Teruskan ke teman

Kenal pemilik usaha yang sedang memikirkan hal ini? Kirim surat ini kepadanya.

Teruskan lewat WhatsApp

Edisi lain tentang harga

Membaca ini di web? Terima langsung di email

Terbit tiap Senin 06.00 WIB. Gratis, bisa berhenti kapan saja.

Contoh, tidak tersimpan: tombol membuka WhatsApp dengan pesan “Saya ingin berlangganan Surat Senin” tanpa nomor tujuan. Bisa juga kirim lewat email.