← Galeri
Pesan
Demo oleh abcweb.id
Teras Hidup pelan di Kembang Arum
Menu

Tangan Edisi 14: Pelan-pelan di Teras

Anyaman yang Menunggu Hujan Reda

Di Kampung Sirap, bambu dibelah pada pagi yang kering dan dianyam ketika hujan turun. Para perajinnya bekerja mengikuti cuaca, bukan mengikuti tenggat.

Oleh Bayu Samodra (5 hari lalu) · 3 menit baca · 527 kata

Bagikan via WhatsApp
Sepasang tangan mengikat bilah bambu pada rangka anyaman yang dipangku
Ilustrasi: tangan perajin mengikat bilah bambu pada rangka anyaman. Bukan foto narasumber atau lokasi dalam tulisan.

Suara pertama yang terdengar di Kampung Sirap setiap pagi bukan ayam, melainkan bilah bambu yang dibelah. Bunyinya pendek dan kering, seperti ranting diinjak, berulang dari beranda ke beranda. Menjelang pukul sembilan suara itu berhenti. Para perajin beralih ke pekerjaan yang hampir tidak berbunyi: menganyam.

Kampung di tepi utara Kota Kembang Arum ini dihuni sekitar enam puluh keluarga, dan menurut catatan pengurus RW, dua puluh tiga di antaranya masih membuat anyaman bambu. Jumlah itu pernah dua kali lipat. Yang bertahan kebanyakan berusia di atas lima puluh tahun, dan salah satunya Karsiman, 63 tahun, yang sudah menganyam sejak belum bisa membaca.

Bambu punya jam sendiri

Karsiman menebang bambu apus dari rumpun di belakang rumahnya hanya pada pekan-pekan tertentu, ketika batang tidak sedang banyak mengandung air. Bambu yang ditebang sembarang waktu, katanya, lebih cepat dimakan bubuk. Batang lalu dijemur berdiri selama dua minggu sebelum dibelah.

"Orang kota sering bertanya, bisa selesai besok atau tidak. Saya jawab, tanya dulu sama bambunya," ujarnya, lalu tertawa sendiri.

Membelah dilakukan pagi hari saat udara kering, karena bilah yang lembap sulit diraut tipis. Menganyam justru paling enak ketika udara lembap, sebab bilah menjadi lentur dan tidak mudah patah di tekukan. Karena itu, pada musim hujan, beranda-beranda Kampung Sirap penuh orang duduk bersila dengan tampah setengah jadi di pangkuan, menunggu sekaligus bekerja.

“Hujan itu bukan halangan. Hujan itu jam kerja kami.”

Karsiman, perajin anyaman
Tangan memegang tang dan bilah bambu melengkung di samping deretan bilah yang sudah diraut Permukaan anyaman bambu bermotif kepang, dipotret dari dekat
Ilustrasi: bilah bambu yang sedang dibentuk; pola anyaman bambu dari dekat.

Satu tampah, satu hari

Dalam sehari, perajin yang terampil menyelesaikan dua tampah besar atau satu bakul nasi berkaki. Besek kecil untuk hantaran bisa sepuluh sampai dua belas buah. Tidak ada mesin, tidak ada cetakan. Ukuran dijaga dengan jengkal dan dengan sebilah bambu penanda yang sudah dipakai Karsiman sejak ayahnya masih hidup.

Istrinya, Tumirah, mengerjakan bagian yang menurut Karsiman paling sulit: mengunci tepi. Di bagian itu bilah-bilah yang tadinya lurus dilipat masuk ke bingkai dan diikat dengan tali rotan. Tepi yang kendur membuat tampah berumur setahun. Tepi yang rapat membuatnya bisa diwariskan.

"Anyaman bagian tengah, anak kecil pun bisa belajar seminggu. Tepinya yang lama. Saya sendiri baru berani mengunci sendiri setelah punya anak dua," kata Tumirah.


Harga yang jujur

Tampah buatan mereka dijual ke pengepul dengan harga yang, bila dibagi jam kerja, lebih rendah daripada upah buruh harian. Selama bertahun-tahun itu dianggap wajar. Tiga tahun terakhir, sebagian perajin mulai menjual langsung lewat lapak bersama di Pasar Wage setiap hari pasaran, dengan harga yang mereka sepakati sendiri.

Yang mengusulkan lapak itu adalah Rukmini Astari, 34 tahun, anak salah satu perajin yang pulang setelah bekerja di luar kota. Ia tidak mengubah bentuk anyaman. Ia hanya menambahkan selembar kertas kecil di setiap barang: nama pembuatnya dan berapa lama barang itu dikerjakan.

"Pembeli tidak menawar terlalu rendah kalau tahu ini dikerjakan Bu Tumirah selama enam jam," kata Rukmini. Menurut catatannya, pendapatan rata-rata anggota lapak naik kira-kira sepertiga, tanpa menambah jumlah produksi.

“Kami tidak ingin membuat lebih banyak. Kami ingin yang sedikit ini dihargai secukupnya.”

Rukmini Astari

Yang belum terjawab

Lapak bersama belum menjawab persoalan paling besar: siapa yang akan meneruskan. Dari dua puluh tiga keluarga perajin, hanya empat yang anaknya ikut menganyam. Rukmini mencoba membuka kelas sore untuk anak-anak sekolah dasar di balai RW setiap Sabtu. Pesertanya naik turun, antara lima sampai lima belas anak, tergantung musim layangan.

Karsiman tidak terlalu risau. Ia menunjuk rumpun bambu di belakang rumah, yang ditanam kakeknya dan masih bertunas setiap tahun. "Bambunya saja sabar," katanya. "Masa kami tidak."

Kontributor · sejak Edisi 5

Bayu Samodra

Belajar mengukir kayu dari pamannya, lalu menyadari ia lebih telaten mencatat cara orang lain bekerja. Menulis tentang perajin dan perkakas, dan selalu pulang membawa satu barang buatan narasumbernya, dibeli dengan harga biasa.

Tulisan lain Bayu