← Galeri
Pesan
Demo oleh abcweb.id
Teras Hidup pelan di Kembang Arum
Menu

Arsip edisi No. 13 Terbit

Tanah yang Dekat

Pekarangan, pot, dan ember kompos: apa yang bisa tumbuh dalam jarak sepuluh langkah dari pintu dapur.

5 tulisan · kira-kira 11 menit untuk membaca semuanya

Dari meja penyunting

Kami sering membayangkan kebun sebagai sesuatu yang jauh: lahan di pinggir kota, akhir pekan yang longgar, suatu hari nanti. Edisi ini berangkat dari pertanyaan sebaliknya. Tanah mana yang paling dekat dengan kita hari ini?

Jawabannya ternyata beragam. Sebidang bekas tumpukan puing di belakang balai RW. Tebing sungai yang tanah liatnya dibentuk menjadi pot. Ember bekas cat di sudut dapur. Tiga pot cabai yang cukup untuk satu cobek sambal.

Yang menyatukan semua tulisan di edisi ini adalah jarak. Semuanya bisa dijangkau dengan sandal jepit.

Laksmi Pradnyawati Penyunting

Isi edisi ini

Kebun dengan bedeng-bedeng kayu berisi sayuran di depan tembok bata, dua orang berdiri di kejauhan

Kebun 3 menit baca

Pekarangan Bersama di Belakang Balai RW

Sebidang tanah bekas tempat menumpuk puing di Karang Pandan kini memberi sayur untuk tiga puluh rumah. Yang paling sulit ternyata bukan menanam, melainkan membagi giliran menyiram.

Oleh Nurul Maheswari ·

Meja 2 menit baca

Sambal dari Halaman Sendiri

Tiga pot cabai rawit cukup untuk kebutuhan sambal satu keluarga kecil. Sisanya soal cobek, garam, dan kesabaran mengulek.

Oleh Ratih Kusumadewi ·

Tangan 2 menit baca

Pot Tanah Liat dari Tungku Kecil

Seorang perajin gerabah di tepi Kali Suji hanya membakar dua kali sebulan. Pot buatannya berpori, berat, dan dicari para pekebun rumahan.

Oleh Bayu Samodra ·