Kami sering membayangkan kebun sebagai sesuatu yang jauh: lahan di pinggir kota, akhir pekan yang longgar, suatu hari nanti. Edisi ini berangkat dari pertanyaan sebaliknya. Tanah mana yang paling dekat dengan kita hari ini?
Jawabannya ternyata beragam. Sebidang bekas tumpukan puing di belakang balai RW. Tebing sungai yang tanah liatnya dibentuk menjadi pot. Ember bekas cat di sudut dapur. Tiga pot cabai yang cukup untuk satu cobek sambal.
Yang menyatukan semua tulisan di edisi ini adalah jarak. Semuanya bisa dijangkau dengan sandal jepit.