Tangan Edisi 12: Barang yang Bertahan
Menambal Kain, Menambal Waktu
Tusuk jelujur yang sengaja diperlihatkan mengubah lubang di lutut celana menjadi hiasan. Sekelompok warga Lembah Suji berkumpul sebulan sekali untuk menambal bersama.
Oleh Bayu Samodra (2 bulan lalu) · 2 menit baca · 254 kata
Setiap Minggu pertama, ruang baca di balai warga Lembah Suji dipenuhi kain. Belasan orang duduk melingkar, masing-masing memangku pakaian yang berlubang: celana kerja, sarung bantal, kemeja flanel yang sikunya menipis. Tidak ada mesin jahit. Yang terdengar hanya obrolan dan sesekali bunyi gunting.
Kelompok ini menamai diri Tambal Sulam Suji dan sudah berjalan dua tahun. Penggagasnya, Wulandari Kusumastuti, 38 tahun, seorang guru prakarya, memulainya setelah menyadari murid-muridnya tidak tahu cara memasang kancing.
Tambalan yang tidak disembunyikan
Teknik yang mereka pakai sangat sederhana: sepotong kain perca diletakkan di balik lubang, lalu dijelujur berbaris dengan benang tebal berwarna kontras. Jahitannya sengaja terlihat. Lubang di lutut berubah menjadi bidang bergaris-garis putih di atas biru tua.
"Dulu tambalan itu tanda tidak mampu beli baru. Sekarang kami ingin tambalan menjadi tanda bahwa barang ini dirawat," kata Wulandari.
Peserta tertua, Mbah Painem, 74 tahun, justru menjadi guru tidak resmi. Ia hafal cara menyambung benang tanpa simpul dan menjaga jarak jelujur tetap rata hanya dengan ruas jari. Menurutnya, semua itu dulu diajarkan kepada setiap anak perempuan dan laki-laki di kampungnya.
Tiga puluh menit per lubang
Satu tambalan seukuran telapak tangan memakan waktu sekitar setengah jam. Yang dibutuhkan hanya jarum bermata besar, benang katun tebal, kain perca yang sudah dicuci, dan bidal bila ada. Wulandari menyarankan memulai dari sarung bantal atau lap dapur sebelum berani menambal pakaian.
Dalam catatan kelompok, lebih dari tiga ratus potong pakaian sudah ditambal sejak pertemuan pertama. Sebagian anggota mengaku kini lebih jarang membeli pakaian, bukan karena berniat berhemat, melainkan karena sayang meninggalkan baju yang sudah mereka jahit sendiri.
Kontributor · sejak Edisi 5
Bayu Samodra
Belajar mengukir kayu dari pamannya, lalu menyadari ia lebih telaten mencatat cara orang lain bekerja. Menulis tentang perajin dan perkakas, dan selalu pulang membawa satu barang buatan narasumbernya, dibeli dengan harga biasa.
Tulisan lain Bayu