Tangan Edisi 13: Tanah yang Dekat
Pot Tanah Liat dari Tungku Kecil
Seorang perajin gerabah di tepi Kali Suji hanya membakar dua kali sebulan. Pot buatannya berpori, berat, dan dicari para pekebun rumahan.
Oleh Bayu Samodra (5 minggu lalu) · 2 menit baca · 261 kata
Tungku milik Sutrisno Adiwijaya tidak lebih besar dari lemari pakaian. Letaknya di halaman belakang rumahnya di tepi Kali Suji, dibangun dari bata merah dan tanah liat yang sama dengan bahan pot-potnya. Sekali bakar muat empat puluh pot ukuran sedang. Ia menyalakannya dua kali sebulan, tidak lebih.
"Tungku besar butuh pesanan besar. Pesanan besar butuh utang kayu bakar. Saya tidak mau berputar di situ," kata Sutrisno, 57 tahun, tangannya tetap membentuk bibir pot di atas meja putar.
Tanah dari tebing sendiri
Tanah liat diambil dari tebing sungai di belakang rumah, diendapkan dalam bak selama tiga minggu, lalu diinjak-injak sampai liat dan bebas kerikil. Satu pot dibentuk dalam sepuluh menit, tetapi harus diangin-anginkan di tempat teduh selama sepuluh hari sebelum boleh masuk tungku. Pot yang dijemur langsung di bawah matahari hampir pasti retak.
Pembakaran berlangsung delapan jam dengan kayu sisa penggergajian dan sabut kelapa. Sutrisno tidak memakai pengukur suhu. Ia melihat warna nyala api dari lubang intip dan mendengarkan bunyi pot ketika diketuk dengan kawat panjang.
Mengapa pekebun mencarinya
Pot tanah liat yang dibakar dengan suhu rendah bersifat berpori. Air merembes pelan lewat dindingnya sehingga akar tidak tergenang, sesuatu yang penting bagi tanaman bumbu dan sukulen. Kelemahannya, pot lebih berat dan media tanam lebih cepat kering.
Yustina Pramesti, pekebun lorong sempit di Banyu Asri, memakai pot buatan Sutrisno untuk semua tanaman bumbunya. "Pot plastik lebih murah, tetapi kemangi saya dua kali busuk akar di sana," ujarnya.
Sutrisno menjual sendiri dari teras rumah dan tidak menerima pesanan di luar kapasitas tungku. Bila stok habis, pembeli menulis nama di papan dan kembali dua minggu kemudian.
Kontributor · sejak Edisi 5
Bayu Samodra
Belajar mengukir kayu dari pamannya, lalu menyadari ia lebih telaten mencatat cara orang lain bekerja. Menulis tentang perajin dan perkakas, dan selalu pulang membawa satu barang buatan narasumbernya, dibeli dengan harga biasa.
Tulisan lain Bayu