← Galeri
Pesan
Demo oleh abcweb.id
Teras Hidup pelan di Kembang Arum
Menu

Arsip edisi No. 14 Terbit

Pelan-pelan di Teras

Tentang ruang di antara dalam dan luar, dan orang-orang yang tidak terburu-buru menyelesaikannya.

6 tulisan · kira-kira 14 menit untuk membaca semuanya

Dari meja penyunting

Teras adalah ruang yang aneh. Ia bukan dalam, bukan pula luar. Kita tidak tidur di sana, tidak memasak di sana, tetapi di banyak rumah di Kembang Arum, di sanalah hari dimulai dan diakhiri.

Edisi ini kami susun di sekitar ruang antara itu, dan di sekitar orang-orang yang mengerjakan sesuatu tanpa tergesa. Keluarga Wiryatmo memerlukan sembilan tahun untuk terasnya dan belum merasa perlu selesai. Para perajin Kampung Sirap menunggu hujan sebelum menganyam. Bu Maryati menolak pesanan kesembilan setiap hari.

Tidak satu pun dari mereka menyebut dirinya penganut hidup pelan. Mereka hanya tahu berapa yang sanggup mereka kerjakan dengan baik, lalu berhenti di sana. Kami belajar banyak, dan terlambat dua hari dari jadwal terbit karenanya.

Laksmi Pradnyawati Penyunting

Isi edisi ini

Dua kursi kayu kasar di sudut teras berdinding putih, dikelilingi banyak tanaman pot

Rumah 3 menit baca

Teras yang Tidak Pernah Selesai

Sembilan tahun keluarga Wiryatmo di Gang Kenanga mengerjakan terasnya sedikit demi sedikit. Mereka tidak sedang menunda; mereka memang tidak ingin terburu-buru.

Oleh Galih Wirasena ·

Kebun 2 menit baca

Kebun Selebar Dua Langkah

Lorong samping rumah yang biasanya jadi tempat jemuran dan ember bocor bisa memberi kemangi, cabai, dan seledri sepanjang tahun.

Oleh Nurul Maheswari ·

Tangan 3 menit baca

Anyaman yang Menunggu Hujan Reda

Di Kampung Sirap, bambu dibelah pada pagi yang kering dan dianyam ketika hujan turun. Para perajinnya bekerja mengikuti cuaca, bukan mengikuti tenggat.

Oleh Bayu Samodra ·