Rumah 3 menit baca
Teras yang Tidak Pernah Selesai
Sembilan tahun keluarga Wiryatmo di Gang Kenanga mengerjakan terasnya sedikit demi sedikit. Mereka tidak sedang menunda; mereka memang tidak ingin terburu-buru.
Oleh Galih Wirasena ·
Majalah daring independen tentang rumah, kebun, kerajinan, dan usaha kecil di Kota Kembang Arum.
Teras Hidup pelan di Kembang ArumTeras
No.14
Pelan-pelan di Teras
Arsip edisi No. 14 Terbit
Tentang ruang di antara dalam dan luar, dan orang-orang yang tidak terburu-buru menyelesaikannya.
6 tulisan · kira-kira 14 menit untuk membaca semuanya
Teras adalah ruang yang aneh. Ia bukan dalam, bukan pula luar. Kita tidak tidur di sana, tidak memasak di sana, tetapi di banyak rumah di Kembang Arum, di sanalah hari dimulai dan diakhiri.
Edisi ini kami susun di sekitar ruang antara itu, dan di sekitar orang-orang yang mengerjakan sesuatu tanpa tergesa. Keluarga Wiryatmo memerlukan sembilan tahun untuk terasnya dan belum merasa perlu selesai. Para perajin Kampung Sirap menunggu hujan sebelum menganyam. Bu Maryati menolak pesanan kesembilan setiap hari.
Tidak satu pun dari mereka menyebut dirinya penganut hidup pelan. Mereka hanya tahu berapa yang sanggup mereka kerjakan dengan baik, lalu berhenti di sana. Kami belajar banyak, dan terlambat dua hari dari jadwal terbit karenanya.
Laksmi Pradnyawati Penyunting
Rumah 3 menit baca
Sembilan tahun keluarga Wiryatmo di Gang Kenanga mengerjakan terasnya sedikit demi sedikit. Mereka tidak sedang menunda; mereka memang tidak ingin terburu-buru.
Oleh Galih Wirasena ·
Kebun 2 menit baca
Lorong samping rumah yang biasanya jadi tempat jemuran dan ember bocor bisa memberi kemangi, cabai, dan seledri sepanjang tahun.
Oleh Nurul Maheswari ·
Tangan 3 menit baca
Di Kampung Sirap, bambu dibelah pada pagi yang kering dan dianyam ketika hujan turun. Para perajinnya bekerja mengikuti cuaca, bukan mengikuti tenggat.
Oleh Bayu Samodra ·