Usaha Kecil Edisi 12: Barang yang Bertahan
Bengkel yang Menolak Menjual Barang Baru
Selama dua puluh enam tahun, sebuah bengkel reparasi di Jalan Cempaka Lama hanya memperbaiki: kipas angin, setrika, radio, penanak nasi. Pemiliknya tidak pernah tergoda memajang dagangan.
Oleh Galih Wirasena (2 bulan lalu) · 3 menit baca · 547 kata
Dinding belakang bengkel itu tertutup perkakas dari lantai sampai langit-langit: obeng berjajar menurut panjang, tang menurut bentuk rahang, gergaji kecil yang digantung pada paku. Di tengah ruangan, meja kerja dari kayu jati bekas pintu menanggung tiga kipas angin tanpa jeruji, sebuah setrika yang perutnya terbuka, dan radio kayu yang lampu penunjuknya menyala redup.
Tidak ada etalase. Tidak ada barang baru. Papan nama di depan hanya berbunyi "Servis Alat Rumah Tangga" dengan cat yang sudah dua kali ditebalkan. Pemiliknya, Widodo Santosa, 59 tahun, membuka bengkel ini dua puluh enam tahun lalu di ruang depan rumah orang tuanya di Jalan Cempaka Lama, dan sejak itu tata letaknya nyaris tidak berubah.
Godaan etalase
Beberapa kali penyalur menawarkan agar ia ikut menjual kipas dan penanak nasi baru dengan sistem titip. Hitungannya menggiurkan: untung dari satu barang baru setara ongkos tiga kali servis. Widodo menolak semuanya.
"Kalau saya jual barang baru, saya akan lebih senang bilang 'ini sudah tidak bisa diperbaiki'," katanya. "Padahal sering kali masih bisa. Hanya lebih repot."
Ia menyebutnya soal kejujuran pada diri sendiri. Seorang tukang servis, menurutnya, tidak boleh punya kepentingan agar barang pelanggan mati.
“Pekerjaan saya memperpanjang umur barang. Aneh kalau saya juga hidup dari barang yang umurnya pendek.”
Nota dengan tiga pilihan
Setiap barang yang masuk dibongkar dulu, diperiksa, lalu pemiliknya dihubungi. Widodo selalu menawarkan tiga pilihan di atas nota tulisan tangan: perbaikan sekadar hidup, perbaikan dengan penggantian bagian yang mulai aus, atau tidak diperbaiki sama sekali beserta alasannya. Ongkos periksa tidak ditarik bila pemilik memilih yang ketiga.
Cara itu membuat pekerjaan lambat. Sebuah kipas angin rata-rata menginap empat hari. Namun menurut buku servisnya, lebih dari separuh pelanggan adalah orang yang sudah pernah datang, dan banyak yang membawa barang milik orang tua mereka.
Salah satunya Endang Purwaningsih, 41 tahun, yang siang itu mengambil penanak nasi berumur lima belas tahun. Yang rusak hanya sakelar suhu seharga sebungkus nasi. "Di tempat lain saya disarankan beli baru. Di sini saya malah diajari cara membersihkan pelat pemanasnya," ujarnya.
Laci suku cadang
Kunci bengkel ini ada pada empat belas laci di bawah meja kerja. Isinya suku cadang yang dikumpulkan Widodo dari barang-barang yang benar-benar tidak tertolong: motor kipas, gulungan kawat, kenop radio, kaki karet, sekring. Setiap laci diberi label dengan kapur.
Barang yang dinyatakan mati tidak ia buang. Dengan izin pemiliknya, barang itu dibongkar habis dan bagian yang masih baik masuk laci. Dari situlah radio kayu di meja kerjanya hidup kembali: kenopnya berasal dari tiga radio berbeda, dan Widodo bisa menyebut satu per satu pemilik lamanya.
Persoalannya, barang keluaran baru makin sulit dibongkar. Banyak yang direkat, bukan disekrup, dan suku cadangnya tidak dijual terpisah. Widodo memperkirakan seperempat barang yang masuk sekarang terpaksa ia kembalikan tanpa bisa disentuh, jauh lebih banyak daripada sepuluh tahun lalu.
Murid hari Sabtu
Sejak tiga tahun terakhir, setiap Sabtu pagi bengkel itu berubah menjadi kelas kecil. Empat sampai enam remaja dari sekitar Jalan Cempaka Lama belajar membuka kipas angin, membersihkan as, dan mengganti kapasitor. Tidak ada biaya; syaratnya membawa satu barang rusak dari rumah sendiri.
Salah satu murid pertamanya, Bagas Nugraha, 19 tahun, kini membantu di bengkel tiga hari seminggu. Ia yang mengusulkan agar nota tiga pilihan difoto dan dikirim kepada pelanggan lewat pesan singkat, sehingga mereka tidak perlu datang dua kali.
“Pak Wid tidak pernah bilang barang ini jelek. Ia selalu bilang, barang ini belum dipahami.”
Widodo sendiri tidak berbicara tentang warisan atau penerus. Ia hanya menunjuk laci nomor sembilan, tempat kenop-kenop radio, lalu berkata bahwa selama laci itu masih dibuka orang, bengkelnya belum perlu tutup.
Kontributor tetap · sejak Edisi 2
Galih Wirasena
Bekas juru gambar bangunan yang lebih suka menulis tentang rumah yang sudah lama dihuni daripada yang baru selesai dibangun. Juga meliput usaha kecil di gang-gang Kembang Arum, biasanya dengan berjalan kaki.
Tulisan lain Galih