← Galeri
Pesan
Demo oleh abcweb.id
Teras Hidup pelan di Kembang Arum
Menu

Usaha Kecil Edisi 13: Tanah yang Dekat

Kios Bibit yang Mencatat Nama Pembelinya

Di sebuah kios bibit dekat Pasar Wage, setiap pembeli ditanya dulu: mau ditanam di mana. Jawabannya dicatat di buku, dan ditanyakan lagi sebulan kemudian.

Oleh Galih Wirasena (6 minggu lalu) · 2 menit baca · 250 kata

Bagikan via WhatsApp
Deretan bibit tanaman berbatang ramping dalam kantong tanam hitam
Ilustrasi: bibit tanaman dalam kantong tanam hitam. Bukan foto narasumber atau lokasi dalam tulisan.

Kios milik Handoko Prasetyo di deret belakang Pasar Wage hanya selebar dua meter. Rak besi tiga tingkat penuh bibit cabai, terung, tomat, dan sawi dalam kantong tanam hitam. Di meja kecil dekat timbangan ada buku besar bersampul batik yang sudutnya sudah melengkung.

Sebelum melayani, Handoko, 44 tahun, selalu bertanya tiga hal: ditanam di pot atau di tanah, kena matahari berapa jam, dan siapa yang akan menyiram. Jawaban pembeli ia tulis di buku bersama nama dan tanggal.

Menjual lebih sedikit

Kebiasaan itu bermula dari rasa bersalah. Pada tahun-tahun awal, banyak pembeli kembali dengan keluhan bibitnya mati. "Ternyata saya menjual tomat kepada orang yang terasnya tidak kena matahari. Itu salah saya, bukan salah mereka," katanya.

Sekarang ia tidak segan menyarankan pembeli mengurangi belanjaan. Orang yang datang hendak membeli sepuluh bibit sering pulang dengan empat dan selembar kertas berisi cara menyiram. Menurut Handoko, penjualan per orang memang turun, tetapi pembeli yang sama datang lagi berkali-kali.

Buku catatannya kini memasuki jilid kesembilan. Ketika pelanggan lama datang, ia membuka halaman sebelumnya dan bertanya kabar terung yang dibeli bulan lalu. Beberapa pembeli mengaku awalnya merasa diinterogasi, lalu merasa diperhatikan.

Bibit dari tetangga

Sebagian besar bibit ia semai sendiri di halaman rumah. Sisanya dibeli dari enam ibu rumah tangga di kelurahannya yang menyemai di teras masing-masing. Ia membayar per kantong yang layak jual dan mengembalikan yang kerdil beserta penjelasan penyebabnya.

Kios itu tidak pernah diperluas. Handoko merasa dua meter cukup untuk bibit yang sanggup ia kenali satu per satu, dan untuk buku yang sanggup ia baca ulang.

Kontributor tetap · sejak Edisi 2

Galih Wirasena

Bekas juru gambar bangunan yang lebih suka menulis tentang rumah yang sudah lama dihuni daripada yang baru selesai dibangun. Juga meliput usaha kecil di gang-gang Kembang Arum, biasanya dengan berjalan kaki.

Tulisan lain Galih