Usaha Kecil Edisi 14: Pelan-pelan di Teras
Warung Jahit di Ujung Gang yang Menolak Buru-buru
Permak selesai paling cepat tiga hari, dan pelanggannya tetap antre. Sebuah usaha jahit rumahan bertahan dengan cara membatasi pesanan.
Oleh Galih Wirasena (11 hari lalu) · 2 menit baca · 254 kata
Di kaca jendela rumah Maryati Susilowati di ujung Gang Melati, Lembah Suji, tertempel kertas bertulisan tangan: "Menerima permak dan jahit. Paling cepat tiga hari. Maksimal delapan potong per hari." Kertas itu sudah diganti beberapa kali karena pudar, tetapi isinya tidak pernah berubah selama enam tahun.
Maryati, 48 tahun, pernah bekerja di sebuah konfeksi dengan target ratusan potong per minggu. Ketika membuka usaha sendiri di ruang depan rumah, ia memutuskan satu hal sejak hari pertama: tidak ada pesanan kilat.
Delapan potong
Angka delapan bukan asal sebut. Ia menghitung bahwa dalam enam jam kerja, dengan jeda memasak dan menjemput anak, ia bisa mengerjakan delapan potong dengan rapi. Pesanan kesembilan dicatat untuk hari berikutnya. Buku tulis bergaris di samping mesin jahit menjadi satu-satunya sistem antrean.
"Dulu saya takut pelanggan lari. Ternyata yang lari hanya yang maunya ditunggu sambil berdiri," ujarnya. Yang bertahan adalah mereka yang datang lagi karena kelim celananya tidak lepas setelah sepuluh kali cuci.
Tarifnya sedikit di atas penjahit lain di kelurahan itu, dan ia menuliskannya di papan kecil supaya tidak ada tawar-menawar. Maryati juga menolak pekerjaan yang menurutnya tidak sepadan, misalnya mengecilkan pakaian yang bahannya sudah rapuh. Ia lebih memilih menjelaskan alasannya daripada menerima uang lalu mengecewakan.
Cukup itu berapa
Penghasilannya, kata Maryati, cukup untuk belanja dapur dan uang sekolah dua anak; penghasilan suaminya untuk cicilan rumah. Ia tidak berencana menambah mesin atau karyawan. Dua tetangga yang ingin belajar menjahit ia ajari setiap Kamis sore tanpa bayaran, dengan satu syarat: kelak mereka juga memasang kertas di jendela dan menepati apa yang tertulis di sana.
Kontributor tetap · sejak Edisi 2
Galih Wirasena
Bekas juru gambar bangunan yang lebih suka menulis tentang rumah yang sudah lama dihuni daripada yang baru selesai dibangun. Juga meliput usaha kecil di gang-gang Kembang Arum, biasanya dengan berjalan kaki.
Tulisan lain Galih