Rumah Edisi 14: Pelan-pelan di Teras
Jendela yang Dibuka Pukul Enam
Kebiasaan lama membuka seluruh jendela pada pagi hari ternyata lebih dari sekadar soal udara segar. Ia mengatur ritme satu rumah.
Oleh Laksmi Pradnyawati (2 minggu lalu) · 2 menit baca · 259 kata
Di rumah nenek saya dulu, hari belum dianggap mulai sebelum semua jendela dibuka. Pukul enam, daun jendela kayu didorong keluar satu per satu dan diganjal dengan kait besi. Udara malam yang pengap keluar, suara tukang sayur masuk. Kebiasaan itu hilang ketika kami pindah ke rumah berjendela kaca mati dan berpendingin udara.
Tahun lalu saya mencoba menghidupkannya lagi, mula-mula karena dinding kamar belakang berjamur.
Lima belas menit
Menurut Teguh Prasojo, tukang bangunan yang sudah tiga puluh tahun merenovasi rumah-rumah lama di Kembang Arum, kebanyakan masalah lembap di rumah bukan berasal dari bocor, melainkan dari udara yang tidak pernah berganti. "Rumah itu perlu bernapas. Jendela yang tidak pernah dibuka sama saja dengan tembok," katanya.
Sarannya sederhana: buka jendela di dua sisi rumah yang berseberangan selama lima belas menit setiap pagi, ketika udara luar masih sejuk dan debu jalan belum naik. Pintu kamar ikut dibuka agar angin punya jalan. Lemari pakaian dibuka seminggu sekali.
Saya mengikutinya selama dua bulan. Bercak jamur tidak hilang sendiri, tetap harus disikat dan dicat ulang, tetapi tidak kembali. Bau apak di kamar belakang berkurang pada minggu kedua.
Yang ikut berubah
Efek sampingnya tidak saya duga. Karena jendela harus dibuka pukul enam, saya bangun sebelum itu. Karena jendela terbuka, saya mendengar tetangga menyapu halaman dan jadi tahu namanya. Kain gorden lebih sering dicuci karena terlihat debunya.
Membuka jendela memang tidak cocok untuk semua rumah. Yang menghadap jalan besar perlu memilih jam yang lebih pagi dan memasang kasa. Namun bagi rumah di dalam gang, lima belas menit itu murah, dan rasanya seperti memberi tahu rumah bahwa hari sudah berganti.
Penyunting · sejak Edisi 1
Laksmi Pradnyawati
Mendirikan Teras dari meja makan rumahnya setelah dua belas tahun menjadi penyunting naskah lepas. Membaca setiap tulisan sedikitnya tiga kali: sekali sebagai pembaca, sekali sebagai penyunting, dan sekali dengan suara keras.
Tulisan lain Laksmi