Rumah Edisi 14: Pelan-pelan di Teras
Teras yang Tidak Pernah Selesai
Sembilan tahun keluarga Wiryatmo di Gang Kenanga mengerjakan terasnya sedikit demi sedikit. Mereka tidak sedang menunda; mereka memang tidak ingin terburu-buru.
Oleh Galih Wirasena (kemarin) · 3 menit baca · 564 kata
Ubin di teras rumah nomor 14 Gang Kenanga tidak seragam. Tiga baris pertama dari pintu berwarna abu kebiruan, dua baris berikutnya krem, dan sisanya, sampai ke anak tangga, masih semen yang diaci halus. Bagi tamu yang baru pertama kali datang, lantai itu terlihat seperti pekerjaan yang ditinggal tukang. Bagi Hartanto Wiryatmo, 52 tahun, pemilik rumah, lantai itu adalah catatan.
"Yang biru itu tahun pertama, waktu anak sulung saya masuk SD. Yang krem dipasang waktu ibu saya mulai tinggal di sini," katanya sambil menunjuk dengan ujung sandal. "Yang semen, ya, menunggu rezeki berikutnya."
Keluarga ini pindah ke Kelurahan Sekar Wetan sembilan tahun lalu, ke rumah tipe kecil dengan halaman depan selebar tiga meter. Teras aslinya hanya cukup untuk satu rak sepatu. Alih-alih meminjam uang untuk merombak sekaligus, Hartanto dan istrinya, Sulastri, memutuskan mengerjakannya per bagian, setiap kali ada sisa tabungan dan, yang menurut mereka lebih penting, setiap kali mereka sudah tahu apa yang dibutuhkan.
Menunggu sampai tahu
Keputusan itu lahir dari pengalaman pahit di rumah kontrakan sebelumnya. Di sana mereka pernah memasang kanopi lebar yang ternyata membuat ruang tamu gelap sepanjang hari. "Kami membayar mahal untuk sesuatu yang lalu kami sesali setiap pagi," ujar Sulastri.
Maka di rumah ini, mereka memulai dengan mengamati. Selama satu musim hujan penuh, teras dibiarkan apa adanya. Sulastri mencatat di buku belanja: jam berapa matahari masuk, dari arah mana tempias datang, di sudut mana anak-anak paling sering melepas sepatu. Baru setelah itu atap diperpanjang satu setengah meter, bukan tiga meter seperti saran tetangga.
“Rumah itu seperti orang. Kalau baru kenal seminggu sudah diatur-atur, biasanya salah.”
Tahun ketiga, mereka menambahkan bangku kayu panjang dari papan bekas kusen. Tahun kelima, sebuah tempayan tanah liat besar dipindahkan dari rumah orang tua Hartanto dan diisi tanaman lidah mertua. Tahun ketujuh, dinding samping dilubangi untuk roster agar angin dari arah Kali Suji bisa lewat. Tidak satu pun dari tambahan itu ada dalam rencana awal, karena memang tidak pernah ada gambar rencana.
Biaya yang tersebar
Hartanto, yang bekerja sebagai petugas administrasi di sebuah koperasi simpan pinjam, menyimpan semua nota. Bila dijumlah, biaya teras selama sembilan tahun kira-kira setara dengan harga satu sepeda motor bekas. Angkanya tidak kecil, tetapi tidak pernah terasa berat karena tersebar dalam belasan pembelian.
Ada juga yang tidak tercatat di nota. Tukang yang mengerjakan atap, Pak Darsono, adalah tetangga dua rumah. Ia dibayar harian dan pulang makan siang ke rumahnya sendiri. Roster dipasang Hartanto bersama adik iparnya dalam dua akhir pekan. "Hasilnya tidak selurus buatan tukang," katanya, "tapi saya hafal letak setiap lubangnya."
Cara ini punya harga lain: rumah mereka hampir selalu punya satu sudut yang belum beres. Sulastri mengaku sempat malu ketika arisan RT digelar di rumahnya dan sebagian lantai masih semen. Rasa malu itu hilang ketika seorang tamu justru bertanya di mana mereka membeli ubin krem, lalu duduk lebih lama dari biasanya.
Ruang yang paling sering dipakai
Kini teras itu menjadi ruang yang paling hidup di rumah. Pagi hari, ibu Hartanto, Mbah Sumirah, 78 tahun, duduk di bangku panjang memilah sayur. Sore hari anak bungsu mengerjakan tugas sekolah di sana karena, katanya, lebih terang dan tidak ada televisi. Malam hari, giliran Hartanto dan Sulastri duduk dengan dua gelas teh.
“Kami tidak punya ruang keluarga yang besar. Ternyata yang kami butuhkan memang bukan ruangan, tetapi tempat duduk yang menghadap ke luar.”
Ketika ditanya kapan lantai semen itu akan ditutup ubin, Hartanto tertawa. Ia sudah memegang contoh ubinnya, warnanya hijau lumut, tetapi belum memutuskan. Mungkin tahun depan, ketika anak sulungnya lulus. Mungkin juga tidak. Ada bagian dari dirinya yang senang karena teras itu masih menyisakan pekerjaan.
"Kalau sudah selesai semua," katanya, "nanti kami mau mengobrolkan apa?"
Kontributor tetap · sejak Edisi 2
Galih Wirasena
Bekas juru gambar bangunan yang lebih suka menulis tentang rumah yang sudah lama dihuni daripada yang baru selesai dibangun. Juga meliput usaha kecil di gang-gang Kembang Arum, biasanya dengan berjalan kaki.
Tulisan lain Galih