Kebun Edisi 13: Tanah yang Dekat
Pekarangan Bersama di Belakang Balai RW
Sebidang tanah bekas tempat menumpuk puing di Karang Pandan kini memberi sayur untuk tiga puluh rumah. Yang paling sulit ternyata bukan menanam, melainkan membagi giliran menyiram.
Oleh Nurul Maheswari (4 minggu lalu) · 3 menit baca · 563 kata
Tanah di belakang Balai RW 05 Karang Pandan luasnya kira-kira setengah lapangan bulu tangkis. Empat tahun lalu, tempat itu dipakai warga untuk menaruh apa saja yang tidak muat di rumah: sisa genting, kusen lapuk, pot pecah. Sekarang ada dua belas bedeng kayu berjajar, masing-masing dengan papan nama kecil bertuliskan jenis tanaman dan nama dua keluarga penanggung jawabnya.
Bedeng nomor tujuh, misalnya, berisi kangkung dan dirawat keluarga Pak Wasis dan keluarga Bu Endah. Bedeng nomor sebelas, terung ungu, menjadi tanggungan dua keluarga muda yang baru pindah tahun lalu. Tidak ada pagar selain tali rafia setinggi lutut.
Dimulai dari keluhan
Kebun ini tidak lahir dari program apa pun. Menurut Suharti Ningrum, 56 tahun, yang kini dipanggil warga "Bu Lurah Kebun", semuanya bermula dari keluhan tentang tikus. Tumpukan puing menjadi sarang, dan rapat RT malam itu memutuskan tanah harus dibersihkan.
"Setelah bersih, kami bingung. Kalau dibiarkan kosong, seminggu lagi pasti ada yang menaruh barang lagi," kata Suharti. Seorang warga mengusulkan lapangan parkir. Yang lain mengusulkan gudang. Suharti, yang sudah lama menanam cabai di pot, mengusulkan bedeng sayur dan menawarkan diri mengurusnya selama tiga bulan sebagai percobaan.
Tiga bulan itu berat. Tanah bekas puing keras dan miskin hara. Bedeng pertama dibuat dari papan bekas peti dan diisi tanah yang dibeli patungan, dicampur kompos daun dari halaman balai. Kangkung menjadi tanaman pertama karena, menurut Suharti, hampir mustahil gagal.
“Kami memilih kangkung supaya panen pertama berhasil. Orang baru percaya pada kebun setelah memakan hasilnya.”
Soal giliran
Panen pertama dibagikan ke semua rumah, dan sejak itu peminat bertambah. Masalah baru muncul: semua mau memetik, tidak semua mau menyiram. Pada bulan keenam, dua bedeng mati kekeringan karena masing-masing keluarga mengira keluarga lain sudah datang.
Jalan keluarnya sederhana dan sedikit kaku. Setiap bedeng dipegang dua keluarga, tidak lebih. Jadwal siram ditulis di papan tulis di dinding balai, dan siapa pun yang selesai menyiram mencoret namanya dengan kapur. Papan itu terlihat dari jalan, sehingga nama yang belum dicoret sampai sore menjadi urusan bersama.
"Bukan untuk mempermalukan," ujar Wasis Hadiprayitno, 61 tahun, pensiunan guru yang menyusun jadwal. "Supaya tetangga yang lewat bisa mengingatkan, atau menggantikan kalau yang bersangkutan sedang sakit."
Aturan memetik juga dibuat jelas: hasil bedeng dibagi dua untuk keluarga penanggung jawab, kecuali panen besar yang sepertiganya ditaruh di meja depan balai untuk siapa saja. Di meja itu ada buku tulis. Yang mengambil cukup menulis nama dan apa yang diambil, tanpa membayar.
Yang tumbuh selain sayur
Dalam setahun terakhir, menurut buku catatan balai, kebun menghasilkan sayur yang dicatat lebih dari empat ratus kali pengambilan. Nilai uangnya tidak besar. Suharti sendiri enggan menghitungnya, karena menurutnya hitungan itu melewatkan hal yang lebih penting.
Yang ia maksud terlihat setiap sore sekitar pukul empat. Anak-anak yang menunggu jemputan mengaji ikut mencabut rumput. Mbah Kasmo, 81 tahun, yang tinggal sendiri di ujung gang, datang membawa kursi lipat dan duduk di dekat bedeng bayam, sekadar mengomentari cara orang menyiram. Dua keluarga yang dulu bersitegang soal batas pagar kini memegang bedeng yang bersebelahan.
“Dulu kami kenal tetangga dari suara motornya. Sekarang dari cara dia mengikat ajir tomat.”
Belum semuanya beres
Kebun ini tetap punya persoalan. Sumber air masih mengandalkan keran balai, dan tagihannya ditanggung kas RW; pada kemarau panjang, sebagian warga mempertanyakannya. Rencana membuat tampungan air hujan dari talang balai sudah digambar, tetapi belum dikerjakan. Ada juga bedeng yang berganti penanggung jawab tiga kali dalam setahun.
Suharti tidak menutupi hal itu. Ia justru mencatatnya di papan yang sama, di kolom yang ia beri judul "PR kita". Baginya, kebun bersama bukan soal hasil yang rapi. "Tanah ini dekat dengan semua rumah," katanya. "Itu saja sudah cukup alasan untuk dirawat sama-sama."
Kontributor tetap · sejak Edisi 3
Nurul Maheswari
Guru biologi yang berkebun di halaman belakang seluas dua belas meter persegi. Menulis panduan yang sudah ia coba sendiri sekurang-kurangnya satu musim, termasuk bagian yang gagal.
Tulisan lain Nurul