Rumah Edisi 13: Tanah yang Dekat
Kompos di Sudut Dapur
Satu ember bertutup dan segenggam daun kering sudah cukup untuk mengubah kulit bawang dan ampas teh menjadi makanan pot-pot di teras.
Oleh Nurul Maheswari (6 minggu lalu) · 2 menit baca · 261 kata
Banyak orang berhenti mengompos pada minggu kedua, biasanya karena bau atau belatung. Dua-duanya hampir selalu disebabkan hal yang sama: terlalu banyak bahan basah dan terlalu sedikit bahan kering. Begitu perbandingannya benar, kompos dapur nyaris tidak berbau.
Cara berikut saya pakai tiga tahun di dapur berukuran dua kali tiga meter, dan saya pelajari dari Marsudi Rahardjo, petugas kebersihan lingkungan di Karang Pandan yang mengompos sisa dapur dua puluh rumah di gangnya.
Satu basah, dua kering
Siapkan ember bekas cat ukuran dua puluh liter yang bertutup. Lubangi dasar dan sisinya dengan paku panas, kira-kira dua puluh lubang, lalu letakkan di atas baki. Di dasar ember, taruh selapis ranting kecil agar udara bisa lewat.
Setiap kali memasukkan satu genggam sisa dapur, seperti kulit sayur, kulit buah, ampas teh, dan cangkang telur yang diremas, tutup dengan dua genggam bahan kering. Daun kering paling baik; sobekan kardus polos dan sekam juga bisa. "Yang basah itu makanannya, yang kering itu selimutnya," kata Marsudi.
Jangan masukkan sisa daging, ikan, santan, dan makanan berminyak. Bahan-bahan itu yang mengundang lalat dan tikus.
Aduk seminggu sekali
Seminggu sekali, aduk isi ember dengan tongkat sampai bagian bawah naik ke atas. Bila terasa becek, tambahkan bahan kering. Bila kering seperti remah, perciki air. Kelembapan yang pas terasa seperti spons yang sudah diperas.
Setelah ember penuh, diamkan enam sampai delapan minggu sambil tetap diaduk. Kompos matang berwarna gelap, remah, dan berbau tanah sehabis hujan. Ayak, lalu campurkan satu bagian kompos dengan tiga bagian tanah untuk pot.
Sebuah keluarga beranggota empat orang, menurut hitungan Marsudi, bisa mengurangi hampir separuh kantong sampah hariannya dengan cara ini.
Kontributor tetap · sejak Edisi 3
Nurul Maheswari
Guru biologi yang berkebun di halaman belakang seluas dua belas meter persegi. Menulis panduan yang sudah ia coba sendiri sekurang-kurangnya satu musim, termasuk bagian yang gagal.
Tulisan lain Nurul