Kebun Edisi 14: Pelan-pelan di Teras
Kebun Selebar Dua Langkah
Lorong samping rumah yang biasanya jadi tempat jemuran dan ember bocor bisa memberi kemangi, cabai, dan seledri sepanjang tahun.
Oleh Nurul Maheswari (3 hari lalu) · 2 menit baca · 230 kata
Lorong di sisi timur rumah Yustina Pramesti di Banyu Asri lebarnya 110 sentimeter. Dua langkah orang dewasa, lalu tembok tetangga. Selama bertahun-tahun lorong itu berisi jemuran, tangga lipat, dan ember yang sayang dibuang. Dua tahun lalu Yustina menggeser semuanya dan menjajarkan enam pot tanah liat di atas bata.
Ia memulai dari bumbu yang paling sering dibeli lalu layu di kulkas: kemangi, seledri, daun bawang, cabai rawit. "Saya tidak mau berkebun yang hasilnya harus dipikirkan mau dimasak apa. Saya mau yang tinggal petik untuk masakan hari itu," katanya.
Mengikuti arah matahari
Lorong sempit hanya menerima matahari langsung sekitar empat jam, dari pukul delapan sampai menjelang tengah hari. Yustina menaruh cabai dan kemangi di ujung yang paling lama terang, sedangkan seledri dan daun bawang di bagian yang lebih teduh. Pot diletakkan di atas dua lapis bata supaya air siraman tidak menggenang dan lantai mudah disapu.
Media tanamnya campuran tanah, sekam bakar, dan kompos dari dapur sendiri dengan takaran sama banyak. Ia menyiram pagi hari saja. Sore hari lorong sudah lembap, dan menyiram lagi hanya mengundang jamur.
Yang tidak berhasil
Tomat tumbuh kurus dan mencari cahaya sampai melewati tembok. Mint menjalar ke pot lain. Keduanya ia pindahkan ke teras depan. "Kebun sempit memaksa saya memilih," ujar Yustina. Enam pot itu kini memangkas belanja bumbu mingguannya, tetapi yang lebih ia syukuri adalah alasan untuk berdiri sepuluh menit di lorong setiap pagi sebelum berangkat mengajar.
Kontributor tetap · sejak Edisi 3
Nurul Maheswari
Guru biologi yang berkebun di halaman belakang seluas dua belas meter persegi. Menulis panduan yang sudah ia coba sendiri sekurang-kurangnya satu musim, termasuk bagian yang gagal.
Tulisan lain Nurul