Rumah Edisi 12: Barang yang Bertahan
Kursi Kayu Warisan dan Cara Merawatnya
Kursi tua yang goyah jarang benar-benar rusak. Biasanya ia hanya kering, kendur, dan lama tidak diperhatikan.
Oleh Galih Wirasena (2 bulan lalu) · 2 menit baca · 263 kata
Hampir setiap rumah di Kembang Arum menyimpan setidaknya satu kursi kayu warisan: kursi makan dari rumah kakek, kursi tamu berukir yang joknya sudah diganti tiga kali. Banyak yang berakhir di gudang karena goyah, padahal menurut Sumarno Wibisono, tukang kayu di Sekar Wetan, sembilan dari sepuluh kursi goyah bisa pulih dalam satu sore.
"Kayu tua itu justru lebih stabil daripada kayu baru. Yang kalah biasanya lemnya, bukan kayunya," kata Sumarno, 64 tahun.
Periksa sambungannya dulu
Balikkan kursi di atas meja beralas kain. Goyang setiap kaki dan palang satu per satu untuk mencari sambungan yang longgar. Sambungan yang kendur dilepas dengan hati-hati, sisa lem lama dikerok sampai bersih, lalu diberi lem kayu baru dan dirapatkan. Ikat dengan tali atau karet ban dalam dan diamkan semalam.
Jangan memaku sambungan yang longgar. Paku membelah serat dan membuat perbaikan berikutnya mustahil. Bila pasak sudah terlalu kecil untuk lubangnya, lilitkan serutan kayu tipis yang dilumuri lem sebelum memasukkannya kembali.
Membersihkan tanpa mengelupas
Kotoran menahun pada kayu berpelitur cukup dibersihkan dengan kain lembap yang diberi sedikit sabun cuci piring, lalu segera dilap kering. Hindari amplas kecuali pelitur memang sudah mengelupas di banyak tempat.
Untuk menyegarkan permukaan, Sumarno memakai campuran lilin lebah dan minyak kelapa yang dihangatkan, dioles tipis dengan kain, didiamkan seperempat jam, lalu digosok sampai tidak lengket. Cukup dua kali setahun.
Letak menentukan umur
Kursi kayu tidak suka dekat jendela yang terpapar matahari sore atau tepat di bawah pendingin udara. Perubahan kering dan lembap yang tajam membuat sambungan cepat kendur lagi. Geser sejengkal dari dinding agar udara di belakangnya mengalir, dan kursi yang sama bisa menemani satu generasi berikutnya.
Kontributor tetap · sejak Edisi 2
Galih Wirasena
Bekas juru gambar bangunan yang lebih suka menulis tentang rumah yang sudah lama dihuni daripada yang baru selesai dibangun. Juga meliput usaha kecil di gang-gang Kembang Arum, biasanya dengan berjalan kaki.
Tulisan lain Galih