Bekerja dari Meja Makan
Saya tidak punya ruang kerja. Saya punya meja makan yang harus dikosongkan pukul dua belas, dan batas itu ternyata menolong.
Dimas Ardhana · Kerja · 1 menit baca (217 kata)
Rumah kami tidak punya ruang kerja. Ada dua kamar, satu ruang tengah, dapur, dan meja makan dari kayu sengon yang dibeli nenek entah tahun berapa. Di meja itulah saya bekerja, dari pukul delapan pagi sampai waktu makan siang, ketika semuanya harus diangkat supaya piring bisa masuk.
Dulu saya menganggap ini keadaan sementara. Saya menyimpan gambar-gambar ruang kerja idaman: rak sampai langit-langit, lampu baca, kursi yang harganya setara gaji sebulan. Tiga tahun kemudian saya masih di meja makan dan sudah berhenti menyimpan gambar.
Meja makan memaksakan dua hal yang baik. Pertama, saya tidak bisa menumpuk. Apa pun yang saya keluarkan pagi hari harus muat kembali ke satu kotak kayu pada pukul dua belas. Jadi saya hanya mengeluarkan satu naskah, satu pensil, satu kamus. Kedua, hari kerja saya punya jeda yang tidak bisa ditawar. Makan siang bukan sesuatu yang saya lakukan sambil menatap layar, karena layarnya sudah masuk kotak.
Sore hari saya kembali, tetapi jarang di meja yang sama. Kadang di teras, kadang di peron stasiun, kadang di bangku panjang depan warung yang sudah tutup. Pekerjaan sore biasanya membaca, dan membaca tidak butuh meja.
Saya masih percaya ruang kerja yang baik itu menolong. Tetapi saya tidak lagi percaya bahwa pekerjaan yang baik harus menunggu ruangnya. Sebagian besar naskah yang saya banggakan selesai di antara botol kecap dan tudung saji.