← Galeri
Pesan
Demo oleh abcweb.id
Langsung ke isi
Catatan Pinggir Jalan

Daftar Tugas yang Tidak Pernah Selesai

Saya menyimpan daftar tugas selama sebelas tahun dan tidak sekali pun mengosongkannya. Mungkin memang bukan itu gunanya.

Dimas Ardhana · Kerja · 3 menit baca (556 kata)

Saya mulai menulis daftar tugas pada tahun pertama bekerja, di kantor penerbitan tempat saya menjadi korektor. Sejak itu, sebelas tahun, tidak ada satu hari pun ketika daftar itu kosong. Saya pernah menganggap ini masalah disiplin. Belakangan saya curiga ini masalah harapan: saya berharap sesuatu dari daftar itu yang memang tidak bisa ia berikan.

Daftar sebagai gudang

Selama bertahun-tahun daftar saya berfungsi sebagai gudang. Apa pun yang terlintas masuk ke sana: balas surel penulis, perpanjang pajak motor, pelajari tata letak, telepon Ibu, baca ulang bab tiga. Semua mendapat satu baris, semua tampak sama pentingnya. Setiap pagi saya membuka daftar berisi enam puluh baris dan merasa sudah kalah sebelum mulai.

Gudang punya sifat yang menjengkelkan: barang yang masuk jarang keluar. Baris “pelajari tata letak” tinggal di daftar saya selama empat tahun. Ia tidak pernah dikerjakan dan tidak pernah dihapus, hanya dipindahkan dari aplikasi ke aplikasi seperti perabot warisan yang tidak ada yang mau tetapi tidak ada yang tega membuang.

Seorang kawan lama, Seno, yang sekarang mengelola percetakan kecil di kota ini, pernah melihat daftar saya dan berkomentar pendek.

“Itu bukan daftar kerja. Itu daftar hal-hal yang membuatmu merasa bersalah.”

Seno, kawan lama

Tiga baris di kertas

Sejak awal tahun saya memakai cara yang lebih bodoh. Setiap pagi, sebelum membuka komputer, saya menulis tiga hal di buku tulis kecil.Catatan kaki 1 Tiga saja. Kalau ada hal keempat, salah satu dari tiga harus dicoret dulu. Daftar panjang yang lama masih ada, tetapi saya hanya membukanya pada hari Senin, untuk memilih, bukan untuk mengerjakan.

Tiga baris di kertas punya batas fisik yang tidak dimiliki aplikasi. Halaman berikutnya adalah hari berikutnya. Baris kemarin yang tidak selesai tidak ikut pindah dengan sendirinya; saya harus menulis ulang dengan tangan, dan menulis ulang kalimat yang sama untuk kelima kalinya adalah cara yang ampuh untuk bertanya apakah kalimat itu memang perlu dikerjakan.

Memilih tiga itu sendiri pekerjaan, dan sering kali bagian tersulit dari pagi saya. Naskah yang tenggatnya paling dekat hampir selalu masuk. Baris kedua biasanya sesuatu yang kecil tetapi mengganjal, seperti membalas surel yang sudah tiga hari saya hindari. Baris ketiga saya sisakan untuk hal yang tidak ditagih siapa pun: membaca ulang naskah lama, atau menulis untuk blog ini.

Lewat cara itu saya akhirnya menghapus “pelajari tata letak”. Saya tidak akan mempelajarinya. Ada orang lain yang mengerjakannya jauh lebih baik, dan saya bisa membayar mereka. Menghapus baris itu terasa seperti mengaku kalah selama kira-kira satu menit, lalu terasa seperti mengembalikan buku perpustakaan yang telat empat tahun.

Yang tidak pernah selesai

Tetapi daftar itu tetap tidak pernah kosong, dan di sinilah harapan saya perlu dibetulkan. Pekerjaan penyunting tidak punya garis akhir. Selama saya masih bekerja, akan selalu ada naskah berikutnya, surel berikutnya, tagihan berikutnya. Daftar yang kosong berarti pekerjaan saya sudah habis, dan itu bukan kabar baik.

Jadi ukuran yang saya pakai sekarang bukan “apakah daftarnya habis”, melainkan “apakah tiga baris hari ini dipilih dengan sadar”. Ada hari ketika ketiganya selesai sebelum makan siang. Ada hari ketika satu pun tidak, karena listrik padam atau penulis menelepon dua jam. Dua-duanya hari kerja yang sah.

Bulan lalu sebuah penerbit bertanya kapan saya bisa mulai menggarap naskah baru. Dulu saya akan menjawab “minggu ini” dan menambahkan satu baris ke gudang. Kali ini saya melihat tiga baris saya, melihat Senin depan, dan menjawab “tanggal dua puluh”. Mereka bilang tidak apa-apa.Catatan kaki 2 Ternyata sering kali memang tidak apa-apa. Yang terburu-buru selama ini hanya saya.

Catatan kaki

  1. Buku tulis bergaris ukuran saku, sampul kardus cokelat. Saya membelinya selusin sekaligus di toko alat tulis dekat alun-alun. kembali ke teks (catatan 1)
  2. Penerbitnya kecil dan sabar. Tidak semua pemberi kerja akan menjawab seperti itu, dan saya tahu saya beruntung. kembali ke teks (catatan 2)

Tulisan lain bertopik kerja

Semua tulisan bertopik kerja →

Berlangganan

Satu tulisan baru setiap minggu, dikirim sebagai surel biasa tanpa gambar dan tanpa pelacak. Cukup kirim surel kosong ke surat@catatanpinggirjalan.test, atau ikuti lewat umpan RSS dengan pembaca umpan pilihan Anda. Berhenti kapan saja dengan membalas “cukup”.

Alamat surel di atas hanya contoh (demo).