Sepeda Tua Pak Wiryo
Tetangga saya meminjamkan sepeda jengki yang umurnya lebih tua daripada saya. Remnya satu, belnya dua.
Dimas Ardhana · Catatan harian · 1 menit baca (206 kata)
Pak Wiryo meminjamkan sepedanya kepada saya pagi ini karena ban motor saya bocor dan bengkel belum buka. Sepeda jengki hitam, lebih tua daripada saya, dengan rem yang hanya berfungsi di roda belakang dan dua bel di setang. “Yang kiri untuk orang, yang kanan untuk ayam,” katanya, serius.
Saya sudah belasan tahun tidak naik sepeda. Seratus meter pertama saya oleng seperti anak kecil. Sesudah itu badan ingat sendiri, dan saya mengayuh ke kantor pos lewat jalan belakang yang biasanya saya lewati terlalu cepat untuk dilihat.
Dari atas sadel sepeda, kota ini punya kecepatan yang berbeda. Saya sempat membaca tulisan di papan kecil depan rumah-rumah: menerima jahitan, jual es batu, les matematika SD. Saya sempat mencium bau kayu dari tempat penggergajian dan mendengar radio dari dalam bengkel. Dengan motor, semua itu hanya garis buram di tepi pandangan.
Di tanjakan dekat jembatan saya turun dan menuntun. Seorang bapak yang sedang menjemur gabah di pinggir jalan berkomentar tanpa diminta bahwa rantai sepeda itu perlu diminyaki. Ia benar. Ia juga tahu itu sepeda siapa.
Saya mengembalikannya sore hari dengan rantai yang sudah diminyaki dan sebungkus pisang goreng. Pak Wiryo memeriksa bel kanan lebih dulu, lalu bilang saya boleh pinjam lagi kapan saja. Ban motor sudah ditambal. Besok saya mungkin pura-pura belum.