Rak Buku Bapak
Bapak meninggalkan satu rak berisi seratus empat puluh buku dan kebiasaan menulis tanggal di halaman terakhir. Saya sedang membacanya berurutan.
Dimas Ardhana · Buku · 3 menit baca (534 kata)
Bapak meninggal empat tahun lalu dan meninggalkan satu rak buku dari kayu mahoni, lima tingkat, di ruang tengah rumah Ibu. Selama tiga tahun rak itu tidak disentuh siapa pun kecuali untuk dibersihkan debunya. Awal tahun ini Ibu meminta saya membawanya ke rumah saya, “sebelum rayap mendahului”. Sejak itu saya membaca isinya berurutan, dari kiri atas.
Seratus empat puluh buku
Jumlahnya seratus empat puluh, atau seratus empat puluh satu.Catatan kaki 1 Untuk seorang guru di kota kecil, itu banyak.Catatan kaki 2 Bapak membelinya satu per satu selama empat puluh tahun, kebanyakan dari lapak buku bekas di dekat terminal yang sekarang sudah tidak ada. Harga pensilnya masih tertulis di sudut halaman pertama.
Susunannya tidak mengikuti abjad maupun tema. Butuh waktu sebelum saya sadar bahwa buku-buku itu disusun menurut urutan beli. Rak paling atas berisi buku dari masa ia bujangan, tipis-tipis dan murah. Rak ketiga, masa saya dan adik masih kecil, hampir kosong. Rak kelima, setelah pensiun, paling penuh dan paling beragam.
Saya membawa rak itu dengan mobil bak pinjaman dari Seno, dan buku-bukunya dalam sebelas kardus yang saya nomori supaya urutannya tidak rusak. Ibu berdiri di pintu selama kami mengangkat. Ia tidak menangis; ia hanya berpesan agar rak itu jangan ditaruh di dekat jendela, sebab Bapak tidak suka sampul bukunya pudar.
Tanggal di halaman terakhir
Bapak punya satu kebiasaan yang baru saya ketahui sekarang. Di halaman terakhir setiap buku ia menulis tanggal selesai membaca, dengan pensil, kecil sekali. Kadang ada tambahan satu-dua kata: “hujan”, “di rumah sakit, menunggu Ibu”, “kereta terlambat”. Tidak ada penilaian, tidak ada ringkasan. Hanya kapan dan dalam keadaan apa.
Dari tanggal-tanggal itu saya bisa menyusun ulang kehidupan membacanya. Ia membaca paling banyak pada tahun saya lahir, mungkin karena begadang. Ia tidak menamatkan satu buku pun selama dua tahun setelah nenek meninggal. Pada tahun terakhirnya ia membaca ulang enam buku dari rak pertama, dan di tiap buku itu ada dua tanggal, terpisah empat puluh tahun.
Saya bertanya kepada Ibu apakah ia tahu kebiasaan itu. Ia tahu, tentu saja.
“Bapakmu itu tidak pernah cerita isi bukunya. Tapi tiap selesai satu, dia bilang: sudah. Terus besoknya ke lapak lagi.”
Membaca berurutan
Saya sekarang sampai di buku kedua puluh tiga. Banyak yang tidak akan saya pilih sendiri: buku pertanian, kisah perjalanan laut, kumpulan pidato. Beberapa membosankan. Tetapi membaca rak orang lain secara berurutan memberi sesuatu yang tidak saya dapat dari daftar rekomendasi mana pun. Saya melihat seseorang berubah selera, pelan-pelan, selama puluhan tahun.
Di buku ketujuh belas, sebuah kisah perjalanan berjudul Peta yang Digambar dari Ingatan, saya menemukan satu-satunya catatan pinggir Bapak di seluruh rak sejauh ini. Di samping paragraf tentang seorang ayah yang mengajari anaknya membaca arah angin, ia menulis dua kata: “untuk Dimas”. Tanggal di halaman terakhir menunjukkan saya waktu itu berumur enam tahun.
Ia tidak pernah memberikan buku itu kepada saya, dan tidak pernah mengajari saya membaca arah angin. Barangkali ia lupa. Barangkali ia menunggu saya cukup besar, lalu saya telanjur pergi. Saya tidak akan pernah tahu, dan saya mendapati bahwa saya bisa hidup dengan ketidaktahuan itu.
Yang saya lakukan sekarang adalah meneruskan kebiasaannya. Setiap selesai satu buku dari rak itu, saya menulis tanggal saya di bawah tanggalnya, dengan pensil, sekecil yang saya bisa. Dua tulisan tangan, satu halaman. Masih ada seratus delapan belas buku lagi.
Catatan kaki
- Saya menghitung dua kali karena tidak percaya. Hitungan kedua 141; ada satu buku tipis yang terselip di belakang. kembali ke teks (catatan 1)
- Bapak mengajar ilmu bumi di sekolah menengah selama tiga puluh satu tahun. Hampir sepertiga raknya berisi atlas dan buku perjalanan. kembali ke teks (catatan 2)