← Galeri
Pesan
Demo oleh abcweb.id
Langsung ke isi
Catatan Pinggir Jalan

Buku yang Saya Tinggalkan di Halaman 80

Saya butuh tiga puluh tahun untuk berani tidak menamatkan buku. Aturan halaman 80 membuatnya lebih mudah.

Dimas Ardhana · Buku · 1 menit baca (204 kata)

Sampai umur tiga puluh saya menamatkan setiap buku yang saya mulai. Bukan karena semuanya bagus, melainkan karena berhenti di tengah terasa seperti kalah. Akibatnya saya pernah menghabiskan satu bulan penuh menyeret diri melalui novel yang saya benci sejak bab dua, dan selama bulan itu tidak membaca apa pun yang lain.

Sekarang saya punya aturan halaman 80. Setiap buku mendapat delapan puluh halaman untuk meyakinkan saya. Kalau pada halaman itu saya masih mencari-cari alasan untuk mengerjakan hal lain, buku itu saya tutup, saya beri pembatas, dan saya kembalikan ke rak tanpa rasa bersalah.

Korban terbaru adalah Tiga Puluh Hari Tanpa Rencana karya Galih Pranowo. Gagasannya menarik: penulisnya meninggalkan semua jadwal selama sebulan dan mencatat akibatnya. Tetapi pada halaman 80 ia masih menjelaskan mengapa ia akan melakukannya. Saya menutupnya di teras, lalu merasakan sesuatu yang dulu tidak saya kenal, yaitu lega.

Mengapa delapan puluh? Angka itu tidak ilmiah. Kira-kira dua kali duduk, cukup panjang bagi penulis untuk melewati pembukaan yang canggung, dan cukup pendek sehingga saya tidak merasa sudah telanjur menanam terlalu banyak.

Pembatas itu penting. Saya tidak menamai buku-buku tersebut “gagal”, hanya “belum”. Dua di antaranya saya ambil lagi bertahun-tahun kemudian dan ternyata bagus sekali. Yang berubah bukan bukunya. Saya yang waktu itu belum sampai.

Tulisan lain bertopik buku

Semua tulisan bertopik buku →

Berlangganan

Satu tulisan baru setiap minggu, dikirim sebagai surel biasa tanpa gambar dan tanpa pelacak. Cukup kirim surel kosong ke surat@catatanpinggirjalan.test, atau ikuti lewat umpan RSS dengan pembaca umpan pilihan Anda. Berhenti kapan saja dengan membalas “cukup”.

Alamat surel di atas hanya contoh (demo).