Setahun Menulis Tangan Setiap Pagi
Tiga halaman, sebelum membuka layar apa pun. Setelah dua belas buku tulis, inilah yang berubah dan yang ternyata tidak.
Dimas Ardhana · Kebiasaan · 3 menit baca (520 kata)
Tepat setahun lalu saya membeli selusin buku tulis dan berjanji mengisi tiga halaman setiap pagi sebelum membuka layar apa pun. Hari ini buku kedua belas tinggal beberapa lembar. Dari 365 pagi, saya menulis pada 324 di antaranya.Catatan kaki 1 Ini catatan tentang apa yang berubah, apa yang tidak, dan apa yang saya kira akan terjadi tetapi ternyata tidak.
Yang saya kira akan terjadi
Saya mengira akan menjadi penulis yang lebih baik. Itu tidak terjadi, setidaknya tidak secara langsung. Tiga halaman pagi saya sebagian besar berisi keluhan tentang tidur, daftar belanja yang menyamar, dan kalimat seperti “saya tidak tahu harus menulis apa” yang diulang sampai baris habis. Kalau seseorang menemukan buku-buku itu kelak, ia akan menyimpulkan bahwa pemiliknya orang yang membosankan dan sering kurang tidur.
Saya juga mengira akan menemukan ide-ide besar. Selama setahun, barangkali ada sepuluh halaman yang layak dibaca ulang. Sisanya ampas. Tetapi belakangan saya paham bahwa justru ampas itulah gunanya.
Yang betul-betul terjadi
Tiga halaman pagi bekerja seperti menguras bak. Semua yang mengendap semalaman, kekhawatiran soal tagihan, percakapan yang belum selesai, kalimat orang yang menyinggung, keluar lebih dulu ke kertas. Setelah itu, ketika saya membuka naskah orang lain pukul delapan, kepala saya lebih lengang. Saya tidak menyunting sambil diam-diam memikirkan tagihan, sebab tagihan itu sudah mendapat setengah halaman tadi.
Menulis dengan tangan juga memaksa saya lambat.Catatan kaki 2 Tangan tidak bisa mengejar pikiran, sehingga pikiran harus menunggu, dan selama menunggu itu ia sering berubah. Kalimat yang di kepala terdengar yakin menjadi ragu ketika harus dituliskan huruf demi huruf. Beberapa keputusan buruk tahun ini batal di halaman kedua.
Istri saya, Laras, yang melihat kebiasaan ini dari luar, punya pengamatan yang lebih jujur daripada semua yang saya tulis di sini.
“Kamu tidak jadi lebih pintar. Tapi kamu jadi lebih jarang menggerutu waktu sarapan.”
Ada satu akibat lain yang tidak saya duga. Karena setiap pagi saya sudah menulis tiga halaman yang jelek, menulis yang jelek tidak lagi menakutkan. Draf pertama tulisan-tulisan di blog ini saya kerjakan dengan lebih ringan, sebab saya tahu dari pengalaman tiga ratus pagi bahwa kalimat buruk bisa dilewati dan kalimat berikutnya tetap datang.
Hari-hari bolong
Empat puluh satu pagi saya tidak menulis. Sebagian karena sakit, sebagian karena bepergian, sebagian besar karena malas. Pada bulan ketiga saya bolong sembilan hari berturut-turut dan hampir berhenti sama sekali, sebab rasanya rantai sudah putus dan tidak ada gunanya menyambung.
Yang menyelamatkan kebiasaan ini adalah keputusan kecil: hari bolong tidak perlu ditebus. Saya tidak menulis enam halaman esoknya. Saya menulis tiga, seperti biasa, seolah kemarin tidak terjadi apa-apa. Kebiasaan yang menuntut penebusan cepat sekali berubah menjadi utang, dan orang cenderung menghindari tempat ia berutang.
Tahun kedua
Saya akan meneruskannya, dengan dua penyesuaian. Pertama, saya tidak akan lagi membaca ulang halaman lama pada hari yang sama; godaan untuk menyunting diri sendiri terlalu besar. Kedua, saya akan berhenti tepat di akhir halaman ketiga, walaupun kalimatnya menggantung. Kalimat yang menggantung ternyata membuat saya lebih mudah mulai esok paginya.
Dua belas buku tulis itu sekarang berjejer di rak paling bawah. Tidak ada yang istimewa di dalamnya. Tetapi tebalnya kira-kira satu jengkal, dan setiap kali ragu apakah saya mampu mengerjakan sesuatu secara rutin, saya bisa mengukur jengkal itu dengan tangan.
Catatan kaki
- Hitungan kasarnya: 365 hari dikurangi 41 hari bolong. Saya menandai hari bolong dengan garis datar di kalender dinding, bukan dengan tanda silang. kembali ke teks (catatan 1)
- Pena murah bertinta gel hitam, ujung 0,5 milimeter. Saya sudah mencoba pena yang lebih mahal dan tulisan saya tidak membaik. kembali ke teks (catatan 2)