Ponsel di Laci
Bukan dimatikan, bukan dipasangi aplikasi pembatas. Hanya ditaruh di laci dapur, sebelas langkah dari meja kerja.
Dimas Ardhana · Kebiasaan · 1 menit baca (207 kata)
Saya sudah mencoba hampir semua cara untuk mengurangi waktu di ponsel: aplikasi pembatas, layar hitam-putih, mematikan notifikasi, menghapus lalu memasang lagi aplikasi yang sama. Semuanya bertahan paling lama dua minggu. Cara yang akhirnya bertahan adalah yang paling tidak canggih, yaitu laci.
Setiap pukul delapan pagi ponsel masuk ke laci dapur, di antara gunting dan karet gelang. Laci itu sebelas langkah dari meja kerja. Ponselnya tidak dimatikan; deringnya masih terdengar kalau ada telepon. Tetapi untuk memeriksa pesan, saya harus berdiri, berjalan sebelas langkah, dan membuka laci.
Sebelas langkah ternyata cukup. Sebagian besar dorongan untuk memeriksa ponsel hanya berumur beberapa detik. Kalau benda itu di samping tangan, dorongan tersebut langsung jadi tindakan. Kalau ada sebelas langkah di antaranya, dorongan itu sering sudah lewat sebelum saya sempat bangkit dari kursi.
Saya membuka laci tiga kali sehari: pukul sepuluh, pukul satu, dan pukul empat. Para penulis yang saya tangani sudah tahu jadwalnya. Belum ada naskah yang gagal terbit karena balasan saya terlambat dua jam.
Ada satu kelemahan. Laci hanya bekerja di rumah. Di luar rumah, ponsel kembali ke saku dan saya kembali menjadi orang yang memeriksanya di setiap antrean. Saya belum punya jawaban untuk itu, dan untuk sementara saya tidak mencarinya. Satu ruangan yang tenang sudah lebih baik daripada tidak ada.