Tukang Kunci di Depan Pasar
Kunci pagar patah pagi ini. Lima belas menit di kios Pak Umar memberi saya lebih banyak daripada duplikat kunci.
Dimas Ardhana · Catatan harian · 1 menit baca (207 kata)
Kunci pagar patah di dalam lubangnya pagi ini, tepat ketika saya hendak mengantar naskah ke kantor pos. Separuh tertinggal di gembok, separuh di tangan. Saya membawa keduanya, berikut gemboknya, ke kios tukang kunci di depan pasar.
Kios Pak Umar lebarnya tidak sampai dua meter. Dindingnya penuh kunci mentah yang digantung menurut aturan yang hanya ia pahami. Ia mengeluarkan patahan dari gembok dengan kawat tipis dalam waktu kurang dari semenit, lalu menjepit dua potongan itu berdampingan dan mulai mengikir kunci baru dengan tangan. Mesin duplikatnya ada, tetapi tidak dipakai. “Kalau patah begini, mesin bingung,” katanya. “Tangan tidak.”
Saya memperhatikan cara ia bekerja. Tiga gesekan kikir, angkat, tiup, cocokkan dengan patahan, tiga gesekan lagi. Tidak sekali pun ia mengikir terlalu dalam. Saya bertanya sudah berapa lama. Tiga puluh empat tahun, di kios yang sama, mewarisi dari pamannya.
Kunci selesai dalam lima belas menit. Ia mencobanya ke gembok, memutarnya dua kali, lalu mengikir sedikit lagi walaupun menurut saya sudah lancar. Ongkosnya lebih murah daripada segelas kopi di kafe baru dekat alun-alun.
Dalam perjalanan pulang saya memikirkan kalimatnya soal mesin. Pekerjaan saya juga begitu. Naskah yang rapi bisa diperiksa perangkat lunak. Naskah yang patah, yang logikanya putus di tengah, masih perlu orang yang mau menjepit dua potongannya berdampingan dan mengikir pelan-pelan.