← Galeri
Pesan
Demo oleh abcweb.id
Langsung ke isi
Catatan Pinggir Jalan

Pulang ke Kota yang Tidak Berubah Banyak

Tiga tahun lalu saya pindah kembali ke Giriwening. Yang saya temukan bukan masa kecil, melainkan kota yang punya ukurannya sendiri.

Dimas Ardhana · Kota · 3 menit baca (533 kata)

Tiga tahun lalu, pada bulan yang sama dengan sekarang, saya menurunkan empat belas kardus dari truk sewaan di depan rumah peninggalan nenek di Giriwening. Tiga belas tahun sebelumnya saya meninggalkan kota ini dengan satu ransel dan keyakinan bahwa saya tidak akan kembali kecuali untuk Lebaran. Tulisan ini upaya menjelaskan, terutama kepada diri sendiri, apa yang saya temukan ketika kembali.

Bukan pulang ke masa kecil

Orang yang pulang kampung sering dituduh sedang mencari masa kecilnya. Saya memeriksa tuduhan itu dengan serius dan menemukan bahwa masa kecil saya memang sudah tidak ada di sini. Lapangan tempat kami bermain bola sudah menjadi deretan ruko. Bioskop di Jalan Veteran sudah lama menjadi gudang mebel. Kawan-kawan sekolah sebagian besar pergi, seperti saya dulu.

Yang masih ada adalah hal-hal yang dulu tidak saya perhatikan karena terlalu biasa. Jam besar di menara pasar yang selalu terlambat tujuh menit. Tukang cukur yang tutup setiap Jumat siang. Kebiasaan orang menyebut arah dengan utara dan selatan, bukan kiri dan kanan. Kota ini tidak berubah banyak, tetapi saya yang sekarang melihat bagian yang lain.

Ukuran

Hal pertama yang saya rasakan adalah ukuran. Dari rumah ke pasar tujuh menit jalan kaki. Ke kantor pos sepuluh. Ke stasiun lima belas. Seluruh keperluan saya berada dalam lingkaran yang bisa dijangkau tanpa mesin. Di kota besar dulu, saya menghabiskan hampir tiga jam sehari hanya untuk berpindah dari satu titik ke titik lain.Catatan kaki 1

Tiga jam itu sekarang kembali kepada saya, dan pada bulan-bulan pertama saya tidak tahu harus berbuat apa dengannya. Saya mengisinya dengan pekerjaan tambahan, yang ternyata keliru. Baru pada tahun kedua saya membiarkan sebagian jam itu kosong: duduk di teras, berjalan sore, memasak yang agak lama.

Ukuran juga berlaku untuk orang. Di sini saya mengenal nama tukang sayur, tukang kunci, petugas peron, dan mereka mengenal nama saya. Ini tidak selalu nyaman. Ketika saya sakit dua hari, tiga tetangga datang membawa makanan dan sekaligus pertanyaan. Tidak ada yang anonim di kota kecil. Saya butuh waktu untuk melihat itu sebagai jaring pengaman, bukan pengawasan.

Jembatan berpagar beton di kota kecil dengan seorang pengendara motor melintas, rumah bergenting dan tiang listrik di bawah langit berawan
Ilustrasi: jembatan di pinggir kota kecil pada siang hari.

Yang hilang

Saya tidak mau tulisan ini menjadi iklan. Ada yang hilang ketika saya pindah, dan sebagian masih terasa.

Toko buku yang baik berjarak dua jam naik kereta. Kawan-kawan seprofesi tinggal suara di telepon. Kalau saya ingin menonton pementasan atau pameran, saya harus merencanakannya seperti perjalanan dinas. Penghasilan saya turun kira-kira seperlima, sebab beberapa pekerjaan memang diberikan kepada orang yang bisa datang ke kantor besok pagi.Catatan kaki 2

Pak Wiryo, tetangga sebelah yang seumur hidup tinggal di sini, mendengarkan keluhan saya suatu sore dan menanggapinya tanpa basa-basi.

“Di sini itu kurangnya banyak, Mas. Tapi kurangnya kelihatan semua. Di kota besar, kurangnya ada juga, cuma tidak kelihatan.”

Pak Wiryo, tetangga

Tiga tahun kemudian

Saya masih di sini, dan tidak sedang merencanakan pergi. Bukan karena Giriwening lebih baik daripada tempat lain. Saya kira saya hanya cocok dengan ukurannya: kota yang bisa dilintasi dengan jalan kaki, pekerjaan yang muat dalam satu meja, hari yang punya pagi, siang, dan sore yang berbeda rasanya.

Jam di menara pasar masih terlambat tujuh menit. Bulan lalu ada usul di rapat kelurahan untuk membetulkannya. Usul itu ditolak dengan suara hampir bulat. Semua orang sudah telanjur menghitung dengan selisih itu, dan menurut saya ada sesuatu yang patut dihormati dari kota yang tahu persis seberapa terlambat dirinya.

Catatan kaki

  1. Saya tidak menyebut nama kota besar itu dengan sengaja. Keluhan saya bukan tentang kota tersebut, melainkan tentang cara saya hidup di dalamnya. kembali ke teks (catatan 1)
  2. Sambungan internet di rumah cukup untuk mengirim naskah dan rapat suara. Untuk rapat video, saya masih sering mematikan kamera. kembali ke teks (catatan 2)

Tulisan lain bertopik kota

Semua tulisan bertopik kota →

Berlangganan

Satu tulisan baru setiap minggu, dikirim sebagai surel biasa tanpa gambar dan tanpa pelacak. Cukup kirim surel kosong ke surat@catatanpinggirjalan.test, atau ikuti lewat umpan RSS dengan pembaca umpan pilihan Anda. Berhenti kapan saja dengan membalas “cukup”.

Alamat surel di atas hanya contoh (demo).