← Galeri
Pesan
Demo oleh abcweb.id
Langsung ke isi
Catatan Pinggir Jalan

Warung yang Tutup Pukul Dua

Bu Marni menurunkan tirai bambu tepat pukul dua siang, dan hitungannya ternyata lebih rapi daripada jadwal kerja saya.

Dimas Ardhana · Kota · 3 menit baca (519 kata)

Di ujung Jalan Kenanga, dua rumah sebelum pertigaan menuju pasar, ada warung nasi yang tutup pukul dua siang. Bukan pukul dua kurang sedikit, bukan menunggu pembeli terakhir selesai makan. Pukul dua tepat, Bu Marni menurunkan tirai bambu, membalik bangku ke atas meja, dan mulai mencuci panci. Kalau Anda datang pukul dua lewat lima, Anda akan disambut senyum dan kalimat yang sama: “Besok lagi, ya, Mas.”

Waktu pertama pindah kembali ke Giriwening, saya menganggap kebiasaan itu aneh. Tiga belas tahun di kota besar mengajari saya bahwa usaha yang baik adalah usaha yang buka selama mungkin. Warung makan di dekat kantor lama saya buka sampai tengah malam, lalu buka lagi sebelum subuh. Pemiliknya bangga menyebut dirinya tidak pernah libur. Saya ikut bangga, entah untuk apa.

Hitungan Bu Marni

Suatu siang saya datang cukup awal untuk mengobrol. Saya bertanya, hati-hati supaya tidak terdengar menggurui, apakah tidak sayang menutup warung ketika pegawai kantor kecamatan baru keluar istirahat. Bu Marni tertawa sambil menyendok sayur lodeh ke piring saya.

“Saya masak dua belas kilo beras sehari. Habisnya ya sekitar jam dua. Kalau saya tambah jadi dua puluh kilo, saya harus bangun jam dua pagi, bukan jam empat. Yang untung siapa?”

Bu Marni, pemilik warung

Hitungannya sederhana dan, setelah saya pikir-pikir di jalan pulang, sulit dibantah. Dua belas kilo beras cukup untuk membayar sekolah anak bungsunya, cicilan motor, dan arisan RT. Delapan kilo tambahan akan memberinya uang lebih, tetapi mengambil dua jam tidurnya dan seluruh sorenya. Sore itu ia pakai untuk menjemput cucu, menyiram cabai di pot, dan duduk di teras. Ia sudah menghitung harga sorenya, dan angka itu lebih tinggi daripada laba delapan kilo beras.Catatan kaki 1

Saya tidak ingin meromantiskan ini. Bu Marni bukan filsuf; ia pedagang yang teliti. Ada hari-hari ketika harga beras naik dan ia mengeluh panjang. Ada bulan ketika cicilan terasa berat dan warung buka sampai pukul tiga. Tetapi pukul dua adalah garis yang ia tarik sendiri, dan ia kembali ke garis itu begitu keadaan memungkinkan.

Garis yang ditarik sendiri

Yang membuat saya terus memikirkan warung itu adalah kenyataan bahwa saya sendiri tidak punya garis semacam itu. Sebagai penyunting lepas, saya bisa bekerja kapan saja, dan itu berarti saya bekerja kapan saja. Naskah datang pukul sembilan malam, saya buka pukul sembilan lewat tiga. Tidak ada tirai bambu yang bisa saya turunkan.

Sejak bulan lalu saya mencoba meniru Bu Marni dengan cara yang paling harfiah. Saya menetapkan jumlah halaman yang saya sunting dalam sehari: empat puluh.Catatan kaki 2 Kalau empat puluh halaman selesai pukul tiga sore, saya berhenti pukul tiga sore. Kalau baru selesai pukul tujuh malam, itu tanda bahwa esoknya saya perlu tidur lebih awal, bukan tanda bahwa saya perlu target yang lebih besar.

Hasilnya belum rapi. Dua kali saya melanggar aturan sendiri karena tenggat. Tetapi ada perubahan kecil yang nyata: saya mulai tahu kapan hari kerja saya selesai. Sebelumnya, hari kerja saya tidak pernah selesai, hanya terputus oleh kantuk.

Kemarin saya datang ke warung pukul dua kurang sepuluh. Lauk tinggal tempe dan sambal. Bu Marni menawarkan, kalau mau, ia bisa menggoreng telur dulu. Saya bilang tidak usah, tempe saja cukup. Ia mengangguk, seperti seseorang yang sudah lama tahu bahwa cukup itu ukuran, bukan kekurangan.

Catatan kaki

  1. Angka-angka ini saya catat dari obrolan, bukan dari pembukuan. Bu Marni sendiri bilang ia “menghitung pakai perasaan, tapi perasaannya sudah dua puluh tahun”. kembali ke teks (catatan 1)
  2. Empat puluh halaman berlaku untuk naskah nonfiksi yang sudah cukup bersih. Untuk naskah terjemahan mentah, angka saya jauh lebih kecil. kembali ke teks (catatan 2)

Tulisan lain bertopik kota

Semua tulisan bertopik kota →

Berlangganan

Satu tulisan baru setiap minggu, dikirim sebagai surel biasa tanpa gambar dan tanpa pelacak. Cukup kirim surel kosong ke surat@catatanpinggirjalan.test, atau ikuti lewat umpan RSS dengan pembaca umpan pilihan Anda. Berhenti kapan saja dengan membalas “cukup”.

Alamat surel di atas hanya contoh (demo).