Stasiun Kecil dan Orang-Orang yang Menunggu
Stasiun Giriwening hanya disinggahi empat kereta sehari. Saya sering ke sana tanpa hendak pergi ke mana-mana.
Dimas Ardhana · Kota · 1 menit baca (203 kata)
Stasiun Giriwening hanya disinggahi empat kereta sehari: dua ke timur, dua ke barat. Di antara jadwal itu, peronnya kosong berjam-jam. Saya sering ke sana pada jam-jam kosong tersebut, membawa naskah cetak dan pensil, tanpa hendak pergi ke mana-mana.
Bangku peronnya dari kayu jati tua yang sudah licin oleh puluhan tahun celana orang. Atapnya tinggi, anginnya lewat, dan tidak ada pengeras suara yang menyala kecuali sepuluh menit sebelum kereta masuk. Untuk pekerjaan yang butuh sunyi tetapi bukan sunyi kamar, saya belum menemukan tempat yang lebih baik.
Yang saya sukai adalah cara orang menunggu di sini. Di stasiun besar, menunggu itu gangguan; orang mengisinya dengan layar. Di stasiun kecil, menunggu adalah bagian dari perjalanan. Seorang ibu membuka bekal dan menawarkannya kepada orang di sebelahnya. Dua bapak membicarakan harga pupuk. Petugas peron, Pak Sarmin, menyapu lantai yang sudah bersih, lalu duduk dan mengisi teka-teki silang.
Saya pernah bertanya kepadanya apakah tidak bosan. “Kereta itu datangnya pasti, Mas,” katanya. “Yang pasti-pasti begitu enak ditunggu.”
Kalimat itu saya bawa pulang. Sebagian besar hal yang saya tunggu dalam pekerjaan tidak pasti: jawaban penulis, keputusan penerbit, pembayaran. Mungkin itu sebabnya menunggu terasa berat. Di peron, pukul 10.42 kereta ke timur akan masuk, dan seluruh stasiun mengatur napasnya mengikuti angka itu.