Berjalan Kaki Tanpa Tujuan
Empat puluh menit setiap sore, tanpa rute dan tanpa penghitung langkah. Yang saya dapat bukan kebugaran, melainkan kalimat.
Dimas Ardhana · Kebiasaan · 1 menit baca (234 kata)
Setiap sore sekitar pukul setengah lima saya keluar rumah tanpa membawa apa pun selain kunci. Tidak ada rute. Di pertigaan pertama saya belok ke arah yang kemarin tidak saya ambil, dan dari situ terserah kaki. Empat puluh menit kemudian saya biasanya sudah di rumah lagi, kadang lewat gang yang baru pertama kali saya masuki setelah tiga tahun tinggal di sini.
Saya sengaja tidak menghitung langkah. Dulu saya pernah menghitung, dan dalam dua minggu jalan sore berubah menjadi pekerjaan: ada target, ada grafik, ada rasa bersalah kalau angkanya turun. Kebiasaan yang diukur terlalu rajin lama-lama menjadi milik alat ukurnya.
Yang saya dapat dari jalan kaki ternyata bukan kebugaran. Berat badan saya sama saja. Yang saya dapat adalah kalimat. Paragraf yang macet sejak pagi sering terurai di depan bengkel las Pak Harun, tanpa saya minta. Saya tidak tahu mekanismenya. Dugaan saya, kepala butuh pekerjaan kecil yang tidak penting, seperti menghindari genangan atau menjawab sapaan orang, supaya bagian lain bisa bekerja tanpa diawasi.
Aturannya hanya satu: tidak ada yang didengarkan. Tanpa siniar, tanpa musik. Kalau telinga diisi, jalan kaki menjadi cara lain untuk mengonsumsi sesuatu. Saya ingin empat puluh menit yang tidak memasukkan apa-apa.
Kemarin saya menemukan penjual bibit di gang belakang masjid, yang rupanya sudah di sana sejak sebelum saya lahir. Saya pulang membawa kemangi dalam plastik hitam. Itu satu-satunya hasil jalan sore yang bisa saya tunjukkan kepada orang lain, dan menurut saya itu sudah berlebih.