Tulisan terbaru ·
Warung yang Tutup Pukul Dua
Kota · 3 menit baca
Di ujung Jalan Kenanga, dua rumah sebelum pertigaan menuju pasar, ada warung nasi yang tutup pukul dua siang. Bukan pukul dua kurang sedikit, bukan menunggu pembeli terakhir selesai makan. Pukul dua tepat, Bu Marni menurunkan tirai bambu, membalik bangku ke atas meja, dan mulai mencuci panci. Kalau Anda datang pukul dua lewat lima, Anda akan disambut senyum dan kalimat yang sama: “Besok lagi, ya, Mas.”
Waktu pertama pindah kembali ke Giriwening, saya menganggap kebiasaan itu aneh. Tiga belas tahun di kota besar mengajari saya bahwa usaha yang baik adalah usaha yang buka selama mungkin. Warung makan di dekat kantor lama saya buka sampai tengah malam, lalu buka lagi sebelum subuh. Pemiliknya bangga menyebut dirinya tidak pernah libur. Saya ikut bangga, entah untuk apa.